JAGUARNEWS77.com // Lebak, Banten — Usai mengikuti rangkaian kegiatan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-80 Tahun 2026 di Kota Serang, Pokja Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jakarta Timur melanjutkan agenda dengan melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah, yang berlokasi di Kampung Pasir Akmad, Desa Muara II, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Selasa (10/2/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan mempererat hubungan antara insan pers dengan lembaga pendidikan keagamaan, sekaligus memperkuat nilai ukhuwah di tengah dinamika kehidupan sosial dan kebangsaan.
Foto: Rombongan Pokja PWI Kejaksaan dan pengadilan Jakarta Timur, Melakukan Kunjungan Silaturahmi ke Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah. (Dok- JN77/MA)
Rombongan Pokja PWI disambut langsung oleh pimpinan pondok pesantren, KH Zamzam, yang akrab disapa Abi Zamzam, didampingi istri beliau Siti Nurlelah atau Umi Lelah.
Suasana silaturahmi berlangsung hangat dan penuh keakraban, diwarnai dialog terbuka mengenai peran pesantren, pers, serta tantangan pendidikan keumatan di era modern.
Dalam kesempatan tersebut, pihak pesantren memaparkan sejarah berdiri, visi dan misi, serta sistem pendidikan yang diterapkan di Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah.
Abi Zamzam menjelaskan bahwa pesantren ini didirikan pada tahun 2013 dan mulai menetap serta beroperasi secara penuh di lokasi saat ini sejak 2018 hingga 2019.
“Nama Al-Malikiyyah kami ambil dari nama orang tua saya, sementara Tarbiyatul Falah merupakan nama pesantren keluarga dari pihak istri. Ini menjadi simbol kesinambungan perjuangan pendidikan dalam keluarga,” ungkap Abi Zamzam.
Ia menambahkan, hingga kini pesantren telah berjalan sekitar delapan tahun dan terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan bagi para santri.
“Harapan kami, pondok ini dapat terus berkembang dan mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, serta bermanfaat bagi umat, baik di dunia maupun di akhirat,” ujarnya.
Abi Zamzam menegaskan bahwa tujuan utama pendirian pesantren adalah membentuk generasi penerus yang memiliki pemahaman agama yang kuat, karakter yang baik, serta kemandirian dalam kehidupan.
Meski berhaluan salafiyah, sistem pendidikan di pesantren tersebut dikembangkan dengan penguatan aturan, kedisiplinan, dan tanggung jawab santri agar tetap relevan dengan tantangan zaman.
“Konsepnya salafiyah, tetapi kami perkuat dengan aturan yang jelas. Santri dibiasakan hidup disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab, tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi,” jelasnya.
Di sisi lain, Abi Zamzam juga mengungkapkan bahwa pesantren masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.
Kebutuhan mendesak saat ini antara lain pembangunan masjid serta penambahan asrama, seiring meningkatnya jumlah santri dari tahun ke tahun. Meski demikian, pihak pesantren tetap berkomitmen menjaga akses pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat.
“Tidak ada biaya pendaftaran.
Kami hanya menerapkan sedekah seikhlasnya. Iuran bulanan sekitar Rp400 ribu sudah mencakup makan tiga kali sehari dan kebutuhan dasar santri,” tuturnya.
Sementara itu, Umi Lelah memaparkan berbagai capaian dan prestasi santri Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah yang telah mengharumkan nama pesantren di tingkat nasional, khususnya melalui ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) serta Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK).
Pada STQH Pontianak tahun 2019, santri Siti Rosdiana berhasil meraih Juara I Hadits 100 Ma’assanad. Prestasi berlanjut pada STQH Maluku Utara 2021, dengan sejumlah santri meraih penghargaan, di antaranya Sarmila (Juara III Hadits 100 Ma’assanad), Siti Rosdiana (Juara II Hadits 500 Bilassanad), Makinun Amin (Juara II Hadits 100 Ma’assanad), Ary Afryady (Juara Harapan II), Hanifuddin Mukhtashor (Juara Harapan III Hadits 500 Bilassanad), serta Nurhayati (Juara Harapan III Hadits 100 Ma’assanad).
Prestasi nasional kembali ditorehkan pada STQH Jambi 2023 melalui santri Siti Hafsoh yang meraih Juara I Hadits 500 Bilassanad.
Selanjutnya pada STQH Kendari, Sulawesi Tenggara 2025, santri Alea Eka Silva berhasil meraih Juara II Hadits 100 Ma’assanad, disusul M. Yusuf Ardabily sebagai Juara Harapan I Hadits Ma’assanad. Selain itu, santri Sultan Saleh Amirulloh juga meraih Juara Harapan III pada ajang Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional di Wajo, Sulawesi Selatan.
“Prestasi bukan tujuan utama kami. Yang paling penting adalah keberkahan dan kemanfaatan ilmu bagi para santri. Prestasi hanyalah bonus dari proses pendidikan yang dijalani dengan sungguh-sungguh,” ujar Umi Lelah.
Dalam kesempatan yang sama, Abi Zamzam dan Umi Lelah turut menyampaikan ucapan Selamat Hari Pers Nasional (HPN) ke-80 kepada seluruh insan pers di Indonesia.
Mereka berharap pers nasional terus menjalankan fungsi edukasi, kontrol sosial, serta menjadi mitra strategis dalam mendukung pembangunan bangsa yang berkeadilan dan beradab.
Melalui silaturahmi ini, pihak pesantren juga berharap terjalin sinergi dan kepedulian dari berbagai pihak, khususnya insan pers, dalam mendukung pengembangan pesantren serta keberlangsungan pendidikan santri, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Reporter: Muhamad Alviyan
Editor: Muhamad Alviyan