• Jelajahi

    Copyright © JAGUARNEWS77.COM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    OA PHIGMA paralegal

    Total Tayangan Halaman

    More Post

    ‎Semarak Jali-Jali Betawi Menggema di Ancol, 2.713 Penari Antar IICF 2026 Pecahkan Rekor MURI

    15/09/26, 17:24 WIB Last Updated 2026-09-15T10:24:13Z

    Foto: Kekayaan budaya Betawi kembali mendapat panggung internasional. Sebanyak 2.713 penari dari 12 negara tampil secara kolosal membawakan Tarian Semarak Jali-Jali Betawi dalam gelaran 5th Indonesia International Culture Festival (IICF) 2026 (Dok-Istimewa).




    ‎JAGUARNEWS77.COM // JAKARTA – Kekayaan budaya Betawi kembali mendapat panggung internasional. Sebanyak 2.713 penari dari 12 negara tampil secara kolosal membawakan Tarian Semarak Jali-Jali Betawi dalam gelaran 5th Indonesia International Culture Festival (IICF) 2026 di kawasan Symphony of the Sea, Ancol Taman Impian, Jakarta, Sabtu (12/9/2026).

    ‎Penampilan kolosal tersebut sekaligus mengantarkan IICF 2026 mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

    ‎Ribuan penari dari berbagai latar belakang budaya tampil bersama membawakan tarian yang mengangkat kekhasan budaya Betawi.

    ‎Pemecahan rekor itu menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian IICF 2026 yang diinisiasi Yayasan Warna Budaya Indonesia (Color of Indonesia).

    ‎Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, LPDP, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Djarum Foundation, serta Taman Impian Jaya Ancol.

    ‎Keterlibatan peserta dari berbagai negara membuat festival tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antarbudaya.

    ‎Peserta IICF 2026 datang dari Amerika Serikat, Rusia, Polandia, Mongolia, Korea Selatan, India, Filipina, Sri Lanka, Malaysia,

    ‎Thailand, Turki, dan Indonesia.
    ‎Kehadiran mereka menunjukkan bahwa seni tradisional dapat menjadi medium untuk memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

    ‎Di tengah keberagaman peserta, budaya Betawi ditempatkan sebagai salah satu representasi budaya Jakarta yang ditampilkan dalam format pertunjukan kolosal.

    ‎Budaya Betawi Menjadi Titik Temu Internasional

    ‎Tarian Semarak Jali-Jali Betawi menjadi
    ‎salah satu daya tarik utama dalam festival tersebut. Ribuan penari tampil secara bersama-sama sehingga menciptakan pertunjukan kolosal yang sekaligus menjadi simbol kolaborasi lintas negara.

    ‎Pemecahan rekor MURI juga memberikan nilai tambah bagi penyelenggaraan IICF 2026. Rekor tersebut tidak hanya menonjolkan jumlah peserta, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seni tradisional dapat dikemas menjadi pertunjukan yang mampu menarik perhatian publik internasional.

    ‎Festival budaya seperti IICF juga memiliki ruang strategis untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.

    ‎Pelajar dan masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi dapat terlibat langsung dalam berbagai kegiatan yang mengangkat seni, kreativitas, dan kebudayaan.

    ‎Selain pemecahan rekor MURI, pada Sabtu (12/9/2026), sejumlah agenda lainnya turut digelar, antara lain International Dance Competition, Drawing Coloring Competition, dan Face Painting.

    ‎Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada Minggu (13/9/2026) melalui International Beach Parade Competition, Solo Dance Competition, serta Bazaar & Multi Produk UMKM.

    ‎Kehadiran juri internasional dari International of Folklore Festivals Organization (IOFF) turut memperkuat dimensi internasional dalam penyelenggaraan festival tersebut.

    ‎Penilaian dan keterlibatan unsur internasional menjadi bagian dari upaya menghadirkan kompetisi budaya yang tidak hanya bersifat seremonial.

    ‎Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
    ‎IICF 2026 juga diarahkan tidak berhenti pada aspek pertunjukan budaya.

    ‎Festival ini membawa misi yang lebih luas, yakni mendorong perkembangan pariwisata, ekonomi kreatif, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

    ‎Kehadiran bazar dan produk UMKM dalam rangkaian kegiatan menjadi salah satu bentuk keterhubungan antara pelestarian budaya dan aktivitas ekonomi masyarakat.

    ‎Produk kreatif lokal memperoleh ruang untuk diperkenalkan kepada peserta dan pengunjung dari berbagai daerah maupun negara.

    ‎Dalam konteks pariwisata, festival internasional juga dapat menjadi sarana promosi destinasi.

    ‎Jakarta tidak hanya diperkenalkan sebagai pusat pemerintahan dan bisnis, tetapi juga sebagai kota yang memiliki kekayaan tradisi, seni pertunjukan, dan keberagaman budaya.

    ‎Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan melalui pendekatan konvensional.

    ‎Budaya dapat dikembangkan melalui festival, kompetisi, pertunjukan kolosal, hingga keterlibatan generasi muda dan pelaku ekonomi kreatif.

    ‎Ancol Dukung Kolaborasi Budaya
    ‎Sementara itu, Taman Impian Jaya Ancol mendukung pelaksanaan IICF 2026 sebagai wadah kolaborasi untuk mengemas kekayaan tradisi Nusantara secara kreatif dan autentik.

    ‎Penyelenggaraan festival di kawasan Symphony of the Sea juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk menikmati pertunjukan budaya dalam lingkungan destinasi wisata.

    ‎Dukungan tersebut sejalan dengan misi Ancol dalam menghadirkan ruang rekreasi yang memadukan unsur hiburan, seni, budaya, dan pengetahuan.

    ‎Melalui kegiatan semacam ini, kawasan wisata tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga dapat menjadi ruang interaksi dan edukasi budaya.

    ‎IICF 2026 diharapkan dapat memberikan pengalaman budaya yang positif bagi masyarakat sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara pelaku seni, pemerintah, dunia usaha, komunitas, serta sektor pariwisata.

    ‎Bagi Jakarta, momentum tersebut menjadi peluang untuk memperkuat citra sebagai kota dengan ekosistem budaya yang hidup dan terbuka terhadap interaksi internasional.

    ‎Rekor MURI dan Tantangan Pelestarian
    ‎Meski pemecahan rekor MURI menjadi pencapaian penting, keberhasilan sebuah festival budaya pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau rekor yang tercatat.

    ‎Tantangan berikutnya adalah memastikan agar perhatian terhadap budaya Betawi tidak berhenti setelah festival berakhir.

    ‎Budaya membutuhkan proses pewarisan yang berkelanjutan. Keterlibatan pelajar, komunitas seni, sanggar budaya, serta masyarakat menjadi penting agar kesenian tradisional tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi berikutnya.

    ‎Karena itu, momentum IICF 2026 dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas pengenalan budaya Betawi sekaligus mendorong kolaborasi budaya Indonesia dengan komunitas internasional.

    ‎Penampilan 2.713 penari dari 12 negara yang berhasil mencatatkan rekor MURI menjadi simbol bahwa budaya lokal memiliki ruang untuk tampil di panggung global.

    ‎Dari Jakarta, Tarian Semarak Jali-Jali Betawi tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Nusantara kepada dunia melalui sebuah festival internasional yang mempertemukan keberagaman budaya dalam satu panggung.




    ‎Reporter: Muhamad Alviyan


    ‎Editor: Alvin

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini