JAGUARNEWS77.com // Depok– Di balik hiruk-pikuk Jalan Margonda Raya yang nyaris tak pernah lengang, terselip kisah sunyi tentang perjuangan hidup seorang remaja perempuan yang memikul beban jauh melampaui usianya.
Pantauan JAGUARNEWS77.com, Sabtu (24/1/2026), mendapati seorang remaja bersandar lelah di sudut tembok pintu keluar SPBU Margonda, ditemani dua adiknya yang masih balita, tertidur di lantai keras beralas seadanya.
Remaja itu bernama Laras (16), siswi kelas IX/3 yang menempuh pendidikan melalui sekolah paket di PKBM Cahaya Utama. Di sisinya, Syaid (4) dan Niken (3) terlelap, seolah kebisingan kendaraan tak lagi berarti.
Ironisnya, tepat di belakang tempat mereka beristirahat, tampak tumpukan sampah yang tak semestinya berada di area publik.
Kepada JAGUARNEWS77.com, Laras mengaku tengah menunggu ayahnya, Ari (52), yang sejak sore mencari botol plastik bekas di sekitar Stasiun Universitas Indonesia.
Sang ibu, Dian (36), juga melakukan pekerjaan serupa. Aktivitas memulung botol bekas telah menjadi tumpuan hidup keluarga ini sejak Laras kecil.
“Kami tinggal di Kampung Lio, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, dari aku kecil. Orang tua aku dari dulu nyari botol bekas,” ujar Laras lirih.
Laras merupakan anak sulung dari enam bersaudara. Selain Syaid dan Niken, ia memiliki adik Tian (14), Ibra (12), serta Jenar, bayi berusia satu minggu. Seperti Laras, Tian dan Ibra juga mengikuti pendidikan sekolah paket.
Menurut Laras, sekolah formal sulit dijalani karena tuntutan ekonomi keluarga.
“Kalau sekolah biasa, kami nggak bisa bantu orang tua. Kalau paket, masih bisa bantu cari jajan juga,” katanya.
Setiap hari, sejak pukul 16.00 hingga 20.00 WIB, Laras berada di sekitar SPBU Margonda. Ia menyusuri kawasan hingga lampu merah Juanda untuk mengumpulkan botol bekas, lalu menunggu ayahnya di pintu keluar SPBU.
Biasanya, Ari menjemputnya usai salat Isya.
Penghasilan keluarga ini jauh dari kata pasti. Dalam sepekan, hasil penjualan botol bekas berkisar Rp300.000 hingga Rp600.000, sementara biaya kontrakan mencapai Rp700.000 per bulan untuk sebuah petak sederhana dengan kamar mandi di dalam.
“Kadang bapak kalau ada panggilan servis TV, ya kerja itu. Kalau nggak ada, baru nyari botol,” tutur Laras.
Dalam kondisi serba terbatas, kebutuhan dasar kerap dikorbankan. Laras mengaku hanya makan sekali sehari demi memastikan adik-adiknya tidak kelaparan.
“Aku lebih milih adik makan. Kalau aku nggak bantu orang tua, adik-adik kasihan,” katanya, menahan air mata.
Meski demikian, Laras tetap menyimpan harapan.
Ia bercita-cita menjadi pramugari, bukan demi gaya hidup, melainkan agar dapat membantu keluarganya keluar dari jerat kemiskinan.
“Aku pengen banget kerja, tapi belum punya KTP. Kalau nanti selesai sekolah, aku mau cari kerja. Harapan aku hidup lebih baik ke depannya,” ujarnya pelan.
Kisah Laras bukan sekadar potret kemiskinan, melainkan cermin ketimpangan sosial di kota penyangga ibu kota. Di tengah pembangunan yang terus bergulir dan wajah kota yang kian dipercantik, masih ada anak-anak yang mengorbankan masa remajanya demi bertahan hidup.
Potret ini menjadi pengingat bahwa kemiskinan perkotaan bukan sekadar angka statistik, melainkan tentang manusia, anak-anak, dan masa depan yang menunggu kehadiran kebijakan yang berpihak serta kepedulian bersama.
Reporter: Muhamad Alviyan
Editor: Muhamad Alviyan