JAGUARNEWS77.com // Jakarta – Dampak bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera tidak hanya dirasakan oleh masyarakat setempat, tetapi juga menimbulkan efek lanjutan terhadap kondisi sosial dan ekonomi di Jakarta.
Sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional, Ibu Kota mulai merasakan tekanan, terutama pada kelompok masyarakat menengah ke bawah yang menggantungkan hidup pada sektor informal, Rabu (1/1/2026).
Tekanan tersebut tercermin dari menurunnya kemampuan masyarakat dalam memperoleh penghasilan harian.
Pekerja tanpa pendapatan tetap,
pedagang keliling, hingga tukang ojek pangkalan mengaku pendapatan mereka terus merosot dalam beberapa waktu terakhir.
Melemahnya daya beli masyarakat serta berkurangnya mobilitas menjadi faktor utama yang memperparah kondisi tersebut.
Hasil penelusuran tim awak media di kawasan Rawa Kuning, Kelurahan Pulogebang, Jakarta Timur, menunjukkan realitas sulit yang dihadapi para tukang ojek pangkalan.
Sepinya penumpang menjadi keluhan utama. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, mereka mengaku kini harus berjuang lebih keras.
Fauzan, salah seorang tukang ojek pangkalan di kawasan Kelapa Satu, Rawa Kuning, mengatakan kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Sekarang penumpang sepi. Untuk makan sehari-hari saja sering tidak cukup,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan beralih ke layanan transportasi berbasis aplikasi, Fauzan mengungkapkan keterbatasan ekonomi menjadi kendala utama.
Menurutnya, kepemilikan telepon pintar serta biaya operasional yang dibutuhkan tidak terjangkau bagi dirinya dan sebagian besar rekan sesama tukang ojek pangkalan.
“Jangankan beli handphone, untuk makan saja pas-pasan. Makanya kami tetap jadi ojek pangkalan,” tuturnya.
Kondisi tersebut mencerminkan masih lebarnya kesenjangan akses terhadap transformasi digital di sektor transportasi.
Di tengah pesatnya modernisasi layanan, sebagian masyarakat belum mampu mengikuti perubahan akibat keterbatasan ekonomi dan minimnya sarana pendukung.
Keluhan serupa disampaikan Udin, tukang ojek pangkalan lainnya di wilayah yang sama.
Ia mengungkapkan beban ekonomi kian berat karena harus menanggung biaya pendidikan tiga anaknya yang masih bersekolah.
“Anak saya tiga, semuanya sekolah. Yang paling besar sekolah di SMA swasta, tiap bulan harus ada biaya, belum jajan hariannya,” katanya.
Udin menambahkan, hingga kini di wilayah Rawa Kuning, Kelurahan Pulogebang, belum tersedia SMA Negeri.
Akibatnya, warga dengan keterbatasan ekonomi terpaksa menyekolahkan anak ke sekolah swasta dengan biaya lebih tinggi.
Ia berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat memberi perhatian serius terhadap pembangunan fasilitas pendidikan di wilayah tersebut.
“Kami berharap ada pembangunan SMA Negeri di Rawa Kuning, Pulogebang,” ujarnya.
Pengamat sosial menilai kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Kebijakan perlindungan sosial serta pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dinilai perlu lebih adaptif terhadap kondisi riil di lapangan, khususnya bagi kelompok rentan yang bergantung pada penghasilan harian.
Jika tekanan ekonomi ini terus berlangsung tanpa intervensi yang tepat, dikhawatirkan akan memicu persoalan sosial yang lebih luas.
Di tengah bencana alam dan ketidakpastian ekonomi, masyarakat kecil kembali menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
(Muhamad Alviyan)