• Jelajahi

    Copyright © JAGUARNEWS77.COM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    OA PHIGMA paralegal

    Total Tayangan Halaman

    More Post

    Ekonomi Ibukota Semakin Sulit Tukang Ojek Pangkalan, Dampak Bencana Alam Melanda

    01/01/26, 21:18 WIB Last Updated 2026-01-01T14:18:32Z


    JAGUARNEWS77.com // Jakarta – Dampak bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera tidak hanya dirasakan oleh masyarakat setempat, tetapi juga menimbulkan efek lanjutan terhadap kondisi sosial dan ekonomi di Jakarta.


    ‎Sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional, Ibu Kota mulai merasakan tekanan, terutama pada kelompok masyarakat menengah ke bawah yang menggantungkan hidup pada sektor informal, Rabu (1/1/2026).


    ‎Tekanan tersebut tercermin dari menurunnya kemampuan masyarakat dalam memperoleh penghasilan harian.


    ‎Pekerja tanpa pendapatan tetap,

    ‎pedagang keliling, hingga tukang ojek pangkalan mengaku pendapatan mereka terus merosot dalam beberapa waktu terakhir.


    ‎Melemahnya daya beli masyarakat serta berkurangnya mobilitas menjadi faktor utama yang memperparah kondisi tersebut.


    ‎Hasil penelusuran tim awak media di kawasan Rawa Kuning, Kelurahan Pulogebang, Jakarta Timur, menunjukkan realitas sulit yang dihadapi para tukang ojek pangkalan.


    ‎Sepinya penumpang menjadi keluhan utama. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, mereka mengaku kini harus berjuang lebih keras.


    ‎Fauzan, salah seorang tukang ojek pangkalan di kawasan Kelapa Satu, Rawa Kuning, mengatakan kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


    ‎“Sekarang penumpang sepi. Untuk makan sehari-hari saja sering tidak cukup,” ujarnya.


    ‎Saat ditanya mengenai kemungkinan beralih ke layanan transportasi berbasis aplikasi, Fauzan mengungkapkan keterbatasan ekonomi menjadi kendala utama.


    ‎Menurutnya, kepemilikan telepon pintar serta biaya operasional yang dibutuhkan tidak terjangkau bagi dirinya dan sebagian besar rekan sesama tukang ojek pangkalan.


    ‎“Jangankan beli handphone, untuk makan saja pas-pasan. Makanya kami tetap jadi ojek pangkalan,” tuturnya.


    ‎Kondisi tersebut mencerminkan masih lebarnya kesenjangan akses terhadap transformasi digital di sektor transportasi.


    ‎Di tengah pesatnya modernisasi layanan, sebagian masyarakat belum mampu mengikuti perubahan akibat keterbatasan ekonomi dan minimnya sarana pendukung.


    ‎Keluhan serupa disampaikan Udin, tukang ojek pangkalan lainnya di wilayah yang sama.


    ‎Ia mengungkapkan beban ekonomi kian berat karena harus menanggung biaya pendidikan tiga anaknya yang masih bersekolah.


    ‎“Anak saya tiga, semuanya sekolah. Yang paling besar sekolah di SMA swasta, tiap bulan harus ada biaya, belum jajan hariannya,” katanya.


    ‎Udin menambahkan, hingga kini di wilayah Rawa Kuning, Kelurahan Pulogebang, belum tersedia SMA Negeri.


    ‎Akibatnya, warga dengan keterbatasan ekonomi terpaksa menyekolahkan anak ke sekolah swasta dengan biaya lebih tinggi.


    ‎Ia berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat memberi perhatian serius terhadap pembangunan fasilitas pendidikan di wilayah tersebut.


    ‎“Kami berharap ada pembangunan SMA Negeri di Rawa Kuning, Pulogebang,” ujarnya.


    ‎Pengamat sosial menilai kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, baik pusat maupun daerah.


    ‎Kebijakan perlindungan sosial serta pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dinilai perlu lebih adaptif terhadap kondisi riil di lapangan, khususnya bagi kelompok rentan yang bergantung pada penghasilan harian.


    ‎Jika tekanan ekonomi ini terus berlangsung tanpa intervensi yang tepat, dikhawatirkan akan memicu persoalan sosial yang lebih luas.


    ‎Di tengah bencana alam dan ketidakpastian ekonomi, masyarakat kecil kembali menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.


    ‎(Muhamad Alviyan)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini