• Jelajahi

    Copyright © JAGUARNEWS77.COM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    OA PHIGMA paralegal

    Total Tayangan Halaman

    More Post

    Banjir Di Desa Idaman: Kemanusiaan Bukan pilihan, Tapi Kewajiban Yang Harus Dilaksanakan

    Bardha Khaswandha
    16/01/26, 22:41 WIB Last Updated 2026-01-16T15:41:12Z

     


     JN77.com - Pandeglang - Banten // Jurnalis Banten Bersatu.

    Manusia tidak hadir di muka bumi ini tanpa maksud. Ia tidak diciptakan sekadar untuk menikmati hidup, menumpuk harta, atau berlindung di balik kenyamanan pribadi. Dalam pandangan agama, manusia adalah makhluk yang diberi amanah besar—sebagai hamba Allah sekaligus penjaga kehidupan, Jum'at (16/01/2026).


    Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)


    Khalifah bukan hanya pemimpin dalam arti kekuasaan, tetapi penjaga keseimbangan, penolong dalam kesempitan, dan penegak nilai kemanusiaan. Maka ketika musibah datang, di situlah hakikat penciptaan manusia diuji: apakah ia hadir sebagai sesama, atau bersembunyi sebagai penonton.


    Banjir yang kembali melanda wilayah Kabupaten Pandeglang, khususnya Desa Idaman, Kecamatan Patia, bukan sekadar peristiwa alam yang berulang. Ia telah menjadi luka yang menahun—air yang datang hampir setiap musim hujan, merendam rumah, memutus aktivitas, dan menggoyahkan ketenangan jiwa warga.


    Namun dalam pandangan spiritual, musibah bukan hanya tentang air yang meluap, melainkan tentang nurani yang dipanggil.


    Allah SWT mengingatkan: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)


    Ujian ini bukan hanya bagi korban banjir, tetapi juga bagi mereka yang aman dari genangan. Apakah yang selamat akan menguatkan yang tertimpa, atau justru membiarkan air kesedihan mengalir sendirian?


    Sebelum manusia dapat memahami kebesaran Tuhan, ia harus terlebih dahulu memahami diri sendiri. Seperti kata pepatah spiritual: “Kenali dirimu, baru kau akan mengenali Tuhanmu. Bagaimana kau mengenali Tuhanmu, sedangkan dirimu sendiri saja kau belum kenal, dari mana asal usulmu?”


    Refleksi ini mengingatkan kita bahwa kemanusiaan dan keimanan berjalan beriringan. Ketika seseorang mampu memahami kelemahan, potensi, dan tanggung jawab dirinya, barulah ia dapat memahami rahmat, hikmah, dan kasih Tuhan.


    Musibah seperti banjir bukan hanya ujian fisik, tetapi panggilan untuk menengok diri: sudahkah kita hadir sebagai manusia yang benar-benar mengenal diri dan tugasnya?


    Jiwa Kebesaran: Ukuran Kemuliaan Manusia

    Dalam Islam, kebesaran seseorang tidak diukur dari apa yang ia miliki, melainkan dari apa yang ia berikan.


    Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)


    Membantu sesama bukan sekadar aksi sosial, tetapi ibadah yang hidup. Ketika seseorang mengulurkan tangan kepada korban banjir—entah berupa tenaga, doa, makanan, atau perhatian—sesungguhnya ia sedang menegakkan martabat kemanusiaannya sendiri.


    Bagi warga Desa Idaman yang telah berkali-kali menghadapi banjir, bantuan bukan hanya soal logistik, tetapi tentang harapan: bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa penderitaan mereka dipikul bersama.


    Dari Empati Menuju Tanggung Jawab Kolektif, musibah banjir di Pandeglang mengajarkan bahwa kepedulian tidak boleh musiman. Ia menuntut kesadaran kolektif: pemerintah, tokoh agama, masyarakat, dan setiap individu yang masih memiliki nurani.


    Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2)


    Ayat ini bukan sekadar seruan moral, tetapi perintah tegas. Menolong bukan pilihan tambahan, melainkan kewajiban iman. Ketika satu desa terendam, sejatinya kita semua sedang diuji—apakah iman kita hanya berhenti di lisan, atau bergerak menjadi tindakan.


    Musibah akan selalu ada, tetapi kemanusiaan tidak boleh surut. Air banjir mungkin akan surut dari Desa Idaman, namun ingatan dan kepedulian jangan sampai ikut mengering.


    Manusia diciptakan bukan untuk hidup sendiri, melainkan untuk saling menguatkan. Dan di tengah lumpur, air mata, serta doa-doa yang terangkat dari Pandeglang, kita diingatkan kembali: jiwa kebesaran lahir dari kesediaan membantu, dan pengenalan diri lahir dari keberanian merenung, sebelum kita mengenali Tuhan yang Maha Penyayang.


    Sumber: Kasman sang Jurnalis Desa

    Editor: Bardha Khaswandha 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini