Foto: Penyanyi dan penulis lagu Indonesia yang kini berbasis di Amerika Serikat, Jeanette Sims, kembali merilis karya terbaru bertajuk “IF ONLY”. (Dok-Istimewa)
JAGUARNEWS77.com // LOS ANGELES – Penyanyi dan penulis lagu Indonesia yang kini menetap di Amerika Serikat, Jeanette Sims, kembali merilis karya terbarunya bertajuk “IF ONLY”.
Single bergenre pop ballad tersebut menjadi penegasan arah musikalnya yang menonjolkan kejujuran emosional, kedalaman lirik, serta kualitas produksi berstandar internasional.
Dirilis serentak di berbagai platform streaming global, “IF ONLY” diproyeksikan bukan sekadar sebagai lagu baru, melainkan representasi perjalanan personal sekaligus strategi konsolidasi karier Jeanette di pasar musik internasional, khususnya di Los Angeles.
Proses Kreatif Sembilan Bulan: Produksi Lintas Benua
Jeanette mengungkapkan bahwa proses kreatif “IF ONLY” berlangsung sekitar sembilan bulan.
Tahapan dimulai dari penulisan lirik, pembuatan demo, pitching materi, rekaman vokal, hingga tahap akhir mixing dan mastering.
Dalam penggarapannya, ia berkolaborasi dengan produser musik Andre Dinuth yang berbasis di Jakarta.
Tahap awal produksi dilakukan jarak jauh: Jeanette merekam sampel vokal di Los Angeles, sementara aransemen musik digarap di Indonesia.
Beberapa bulan kemudian, Andre terbang ke Los Angeles untuk menggelar workshop sekaligus merekam vokal utama secara langsung di studio.
Tahap mixing dan mastering dikerjakan bersama Andre dan engineer Ian Charlie di Hollywood.
“Setiap lapisan produksi dirancang dengan cermat agar tetap menjaga kedalaman makna lagu sekaligus memperkuat karakter vokal saya,” ujar
Jeanette.
Model kerja lintas negara ini mencerminkan tren industri musik global yang semakin cair secara geografis, sekaligus menunjukkan upaya Jeanette menjaga kualitas teknis di tengah proses kolaboratif jarak jauh.
Tema Personal dengan Daya Jangkau Universal
Secara tematik, “IF ONLY” mengangkat kisah penyesalan mendalam akibat kehilangan seseorang yang sangat dicintai karena kesalahan pribadi.
Jeanette mengakui lagu tersebut terinspirasi dari pengalaman pribadinya.
Ia menggambarkan rasa kehilangan yang tak sepenuhnya hilang oleh waktu.
Melalui lagu ini, ia mengekspresikan harapan seandainya dapat kembali mengungkapkan perasaan yang tertunda—tentang keinginan menua bersama sosok yang telah pergi dari hidupnya.
Kekuatan lagu ini terletak pada pendekatan yang intim namun tetap universal.
Aransemen pop ballad dengan balutan instrumen lembut—termasuk sentuhan trumpet—membangun atmosfer melankolis tanpa terjebak dalam kesan berlebihan. Produksi yang bersih dan vokal yang terkontrol menjadi fondasi utama emosi lagu.
Kolaborasi Indonesia–Amerika Serikat
Selain Andre Dinuth dan Ian Charlie, proyek ini turut melibatkan sejumlah musisi lintas negara, antara lain Wanda Omar (bass), Dana Omar (backing vocals), serta Hannah Ureste (trumpet).
Kolaborasi ini memperkaya tekstur musikal “IF ONLY”, menghadirkan dinamika yang tidak hanya pop konvensional, tetapi juga memiliki sentuhan soul dan contemporary adult pop.
Keberagaman latar belakang tim produksi dinilai menjadi salah satu faktor yang memperluas spektrum artistik lagu tersebut.
Penguatan Identitas Visual
Tak berhenti pada kualitas audio, Jeanette juga memberi perhatian serius pada aspek visual.
Video musik “IF ONLY” digarap bersama sutradara dan editor Mike Nelson di Red Fox Studio, Downtown Los Angeles.
Mike Nelson dikenal sebagai fotografer sejumlah artis Hollywood dan pernah menjadi fotografer pribadi Presiden serta Wakil Presiden Amerika Serikat saat menjabat.
Keterlibatannya memberi dimensi visual yang sinematik dan elegan pada proyek ini.
Tim kreatif turut melibatkan Valerie Repetski (Assistant Director), Rocco (BTS & Social Media), serta Grace Lim (Stylist).
Konsep visual dirancang untuk selaras dengan narasi lagu—minimalis, emosional, dan fokus pada ekspresi.
Pendekatan ini memperlihatkan keseriusan Jeanette dalam membangun identitas artistik yang konsisten antara karya audio dan visual.
Solo Karier, Didukung Musisi Profesional
“IF ONLY” merupakan proyek solo Jeanette.
Namun dalam penampilan konser di Amerika Serikat, ia didukung oleh sejumlah musisi profesional Indonesia yang berkarier di sana, antara lain Albert Kurniawan (drum), Dana Omar (gitar), Yakub Saputra (piano), Eghay Synth (keyboard/synth), serta Hannah Ureste (trumpet).
Kehadiran band pendukung tersebut memperkaya interpretasi live, sekaligus menunjukkan kesiapan Jeanette tampil dalam format panggung penuh dengan kualitas musikal yang solid.
Strategi Menembus Pasar Internasional
Berbasis di Los Angeles—salah satu pusat industri hiburan dunia—Jeanette secara bertahap membangun fondasi kariernya di kancah internasional.
Setiap rilisan diposisikan sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan pendengar sekaligus memperkuat diferensiasi artistik.
Di tengah persaingan industri musik global yang sangat kompetitif, pendekatan Jeanette bertumpu pada konsistensi kualitas dan kejujuran ekspresi.
Ia juga menyuarakan pesan motivasional bagi musisi lain agar tidak merasa terhambat oleh faktor usia.
“Karya tidak bisa dilihat dari umur. Jangan kecil hati, jangan kehilangan percaya diri, dan teruslah mengeluarkan musikmu.
Pasti akan selalu ada pasarnya,” tuturnya.
Dengan “IF ONLY”, Jeanette Sims tidak hanya menghadirkan single baru, tetapi juga pernyataan artistik yang matang—tentang cinta, penyesalan, dan keberanian melangkah melampaui batas geografis demi membangun ruang di industri musik internasional.
Reporter: Muhamad Alviyan
Editor: Muhamad Alviyan