• Jelajahi

    Copyright © JAGUARNEWS77.COM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    OA PHIGMA paralegal

    Total Tayangan Halaman

    More Post

    ‎Dialog Kebangsaan Hari Bhayangkara ke-80: Polri Perkuat Tribrata dan Catur Prasetya sebagai Kompas Etika di Era Digital

    23/06/26, 16:45 WIB Last Updated 2026-06-23T09:48:44Z
    Foto:  Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menegaskan komitmennya memperkuat nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya sebagai landasan moral dan etika bagi seluruh personel dalam menghadapi tantangan era disrupsi digital, derasnya arus informasi, serta meningkatnya ekspektasi publik terhadap institusi penegak hukum.





    JAGUARNEWS77.COM // JAKARTA – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menegaskan komitmennya memperkuat nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya sebagai landasan moral dan etika bagi seluruh personel dalam menghadapi tantangan era disrupsi digital, derasnya arus informasi, serta meningkatnya ekspektasi publik terhadap institusi penegak hukum.

    Komitmen tersebut mengemuka dalam Dialog Kebangsaan bertema "Tribrata dan Catur Prasetya sebagai Kompas Etika Polri Presisi di Era Disrupsi Digital dan Keterbukaan Informasi" yang digelar di Swasana Lippo Kuningan Grand Ballroom, Jakarta, Selasa (23/6/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80.

    Dialog menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya cendekiawan Dr. Yudi Latif, M.A., Ph.D., pakar pengembangan sumber daya manusia Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, serta Kapusjarah Polri Brigjen Pol. Abas Basuni, S.I.K., M.H. Kehadiran para narasumber dari berbagai latar belakang tersebut menjadi wujud keterbukaan Polri dalam menyerap gagasan dan kritik konstruktif demi memperkuat reformasi institusi.

    Dalam paparannya, Yudi Latif menekankan bahwa tantangan terbesar institusi kepolisian di tengah masyarakat yang semakin kritis bukan hanya persoalan penegakan hukum, tetapi juga membangun dan menjaga kepercayaan publik. Menurutnya, etika menjadi fondasi utama yang menentukan kuat atau lemahnya legitimasi sebuah institusi negara.

    "Untuk negara majemuk seperti Indonesia yang begitu luas, modal terpenting dalam menjaga publik dan menjaga republik ini adalah kepercayaan. Dan inti dari kepercayaan, sebagai perekat utamanya, adalah etika," ujar Yudi kepada awak media.

    Ia menilai bahwa penguatan nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya tidak boleh berhenti sebagai slogan, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku nyata setiap anggota Polri saat memberikan pelayanan, perlindungan, dan penegakan hukum kepada masyarakat.

    Sementara itu, Ary Ginanjar Agustian mengapresiasi langkah Polri yang membuka ruang dialog dengan akademisi dan tokoh masyarakat sebagai bagian dari proses evaluasi dan pembenahan organisasi secara berkelanjutan.

    Menurut Ary, transformasi Polri menuju institusi kepolisian modern yang berkelas dunia membutuhkan tiga fondasi utama, yakni right people, right system, dan right values.

    Ketiga aspek tersebut harus berjalan secara beriringan agar mampu melahirkan sumber daya manusia Polri yang profesional, berintegritas, sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.

    "Melalui konsep tiga pilar tersebut, yaitu right people, right system, dan right values, maka akan lahir Polri yang bermoral dan berkelas dunia," ujarnya.

    Ary juga mengungkapkan hasil survei yang menunjukkan tingginya semangat perubahan di lingkungan internal Polri.

    Menurutnya, sekitar 95 persen personel memiliki dorongan kuat untuk terus berkembang dan melakukan pembenahan.

    "Ternyata dorongan anggota Polri untuk maju dan berubah mencapai hampir 95 persen. Ini menunjukkan bahwa Polri memiliki energi yang sangat besar untuk terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik," ungkapnya.

    Di sisi lain, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, S.I.K., M.I.Kom., menegaskan bahwa dialog kebangsaan tersebut merupakan bagian dari strategi penguatan budaya organisasi melalui internalisasi nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya.

    Menurutnya, berbagai masukan, hasil penelitian, hingga pandangan dari kalangan akademisi menjadi bahan evaluasi yang sangat penting dalam mendukung transformasi Polri Presisi agar semakin profesional, humanis, dan dipercaya masyarakat.

    Trunoyudo menegaskan bahwa Polri tidak menutup diri terhadap kritik.

    Sebaliknya, kritik yang konstruktif dipandang sebagai energi positif untuk mempercepat reformasi kelembagaan.
    ‎"Kami terbuka terhadap masukan, tidak anti kritik, dan terus berupaya mendorong perubahan sosial yang lebih baik," tegasnya.

    Melalui momentum Hari Bhayangkara ke-80, Polri berharap penguatan nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya tidak hanya menjadi pedoman normatif, tetapi benar-benar terimplementasi dalam setiap pelaksanaan tugas anggota di lapangan.

    Dengan demikian, profesionalisme, integritas, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat dapat terus meningkat seiring dengan terbangunnya kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

    Dialog kebangsaan ini sekaligus menjadi refleksi bahwa transformasi Polri tidak hanya bertumpu pada modernisasi teknologi dan sistem kerja, tetapi juga pada penguatan karakter, etika, serta nilai-nilai moral yang menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Polri Presisi menuju Indonesia Emas 2045.



    ‎Reporter: Muhamad Alviyan



    ‎Editor: Alvin

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini