JAGUARNEWS77.com // JAKARTA TIMUR – Kekhawatiran warga Kampung Sawah Indah Blok E RT 01/005, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, memuncak setelah seorang anak berusia tujuh tahun, Mutiara Melani Putri, terjangkit Demam Berdarah Dengue dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit, Minggu(12/4/2026).
Kasus tersebut memicu keresahan warga yang khawatir penyebaran penyakit akan meluas apabila tidak segera dilakukan langkah penanganan cepat dan terukur.
Terlebih, lingkungan permukiman dinilai memiliki sejumlah titik rawan yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk pembawa virus.
Warga menilai respons pemerintah terkait masih lamban, khususnya dalam melakukan tindakan pencegahan seperti fogging di area yang telah dilaporkan.
Menurut mereka, laporan mengenai kasus DBD sudah disampaikan sejak awal, namun hingga kondisi semakin mengkhawatirkan, penyemprotan belum juga dilakukan secara resmi.
“Sudah ada laporan, tapi belum ada tindakan nyata. Padahal ini menyangkut keselamatan warga,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Merasa kondisi semakin mendesak, warga akhirnya mengambil inisiatif melakukan fogging secara mandiri.
Kegiatan ini dilakukan secara swadaya, mulai dari pengumpulan dana, penyediaan alat, hingga pelaksanaan penyemprotan di sejumlah titik yang dianggap rawan.
Langkah gotong royong tersebut mencerminkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan lingkungan.
Namun di sisi lain, aksi ini juga menjadi kritik terbuka terhadap lambannya penanganan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pihak terkait.
Warga berharap pemerintah tidak hanya menunggu laporan berulang, tetapi lebih proaktif dalam melakukan pemantauan dan tindakan cepat ketika muncul kasus DBD di wilayah permukiman.
Sejumlah warga juga menyoroti kondisi lingkungan yang masih ditemukan genangan air di beberapa titik, diperparah dengan cuaca yang tidak menentu.
Kondisi tersebut dinilai mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebaran DBD.
Selain fogging mandiri, warga turut menggalakkan upaya pencegahan melalui gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Langkah ini dianggap penting sebagai solusi jangka panjang dalam menekan angka penyebaran penyakit.
Warga berharap kondisi Mutiara Melani Putri segera pulih dan tidak ada korban tambahan.
Mereka juga mendesak pemerintah untuk segera turun tangan secara serius, tidak hanya melakukan fogging, tetapi juga pemeriksaan jentik, edukasi kesehatan, serta pengawasan lingkungan secara berkala.
“Keselamatan warga jangan sampai menunggu korban berikutnya. Kami bergerak karena kondisi sudah mendesak,” tegas warga lainnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penanganan DBD membutuhkan respons cepat, koordinasi yang baik, serta kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah.
Tanpa langkah sigap, penyakit yang sejatinya dapat dicegah ini berpotensi terus berulang dan menimbulkan korban baru.
Reporter: Muhamad Alviyan
Editor: Muhamad Alviyan