JAGUARNEWS77.com // Jakarta – Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Erfan Pratama, angkat bicara terkait insiden cekcok yang melibatkan wartawan saat pelaksanaan eksekusi lahan di kawasan Cibubur, Ciracas, Kamis (23/4/2026).
Dalam keterangannya, Erfan menyoroti kuat dugaan minimnya koordinasi antara Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan Pokja PWI sebagai mitra resmi dalam mendukung keterbukaan informasi publik.
Ia menilai, absennya komunikasi sebelum pelaksanaan eksekusi menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya kesalahpahaman di lapangan.
“Tidak ada koordinasi kepada kami terkait kegiatan eksekusi tersebut. Padahal, Pokja PWI memiliki peran strategis sebagai jembatan antara institusi peradilan dan media,” ujar Erfan, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, setiap kegiatan yang berpotensi menimbulkan dinamika, seperti eksekusi lahan, seharusnya disertai dengan komunikasi yang terstruktur kepada insan pers.
Hal ini penting agar proses peliputan berjalan tertib, sekaligus mencegah terjadinya friksi antara petugas dan jurnalis.
Erfan menegaskan, koordinasi bukan sekadar prosedur administratif, melainkan bagian dari upaya membangun transparansi dan akuntabilitas lembaga kepada publik.
“Jika komunikasi berjalan baik, semua pihak akan memahami posisi dan perannya masing-masing. Ini penting untuk menjaga profesionalisme dan menghindari gesekan di lapangan,” katanya.
Selain menyoroti aspek koordinasi, Erfan juga menaruh perhatian serius terhadap perlindungan jurnalis.
Ia menilai, insiden yang menimpa wartawan saat menjalankan tugas peliputan tidak boleh dipandang sepele, mengingat kerja jurnalistik dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
“Wartawan memiliki hak untuk meliput peristiwa yang menyangkut kepentingan publik.
Oleh karena itu, semua pihak harus menghormati dan memberikan ruang bagi kerja-kerja jurnalistik,” tegasnya.
Meski demikian, Erfan tetap mengajak semua pihak untuk menyikapi peristiwa ini secara bijaksana.
Ia menekankan pentingnya membangun hubungan yang saling menghormati antara aparat, petugas pengadilan, dan insan pers.
“Kami tidak ingin memperkeruh keadaan. Justru ini menjadi momentum untuk evaluasi bersama, agar ke depan koordinasi lebih baik dan kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia memastikan Pokja PWI siap mengambil peran aktif sebagai mediator komunikasi antara lembaga peradilan dan media.
Menurutnya, kolaborasi yang baik akan memperkuat keterbukaan informasi sekaligus menjaga stabilitas di lapangan.
“Kami siap menjadi jembatan komunikasi.
Tujuannya jelas, agar keterbukaan informasi tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek hukum dan etika profesi,” tambahnya.
Sebelumnya, seorang wartawan dilaporkan mengalami tindakan fisik saat meliput jalannya eksekusi lahan yang berlangsung ricuh.
Peristiwa tersebut kini menjadi perhatian luas dan dinilai sebagai pengingat pentingnya sinergi antara institusi dan media dalam setiap kegiatan publik.
Reporter: Muhamad Alviyan
Editor: Muhamad Alviyan