• Jelajahi

    Copyright © JAGUARNEWS77.COM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Total Tayangan Halaman

    More Post

    Bos SKK Migas Buka-bukaan Soal Raksasa Migas Hengkang dari RI

    22/12/21, 16:31 WIB Last Updated 2021-12-22T09:31:08Z
    Harga Minyak Melonjak, Investasi Migas 2021 Bisa Tembus USD 11,2 Miliar (CNBC Indonesia TV)
    Foto: Harga Minyak Melonjak, Investasi Migas 2021 Bisa Tembus USD 11,2 Miliar (CNBC Indonesia TV)


    JAGUARNEWS77.com # Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menjelaskan secara rinci mengenai sejumlah perusahaan migas besar asing yang satu per satu hengkang dari Tanah Air.


    Beberapa nama 'raksasa' migas asing yang telah menyatakan akan mundur dari proyek migas di Indonesia antara lain Shell, Chevron, dan terbaru adalah ConocoPhillips.


    Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengungkapkan pada 9 Desember 2021, ConocoPhillips telah mengirimkan surat kepada SKK Migas dan menyampaikan sudah ditandatangani persetujuan melepas seluruh sahamnya kepada PT Medco Energi Indonesia Tbk (MEDC).


    Diketahui, ConocoPhillips Indonesia Holding Ltd (CIHL) merupakan pemegang 100% saham di Conocophillips Grissik Ltd (CPGL) dan 35% saham di Transasia Pipeline Company Pvt. Ltd. (Transasia). Yang mana, CPGL adalah operator dari Corridor PSC dengan kepemilikan 54% working interest (hak partisipasi).


    "Dan yang terjadi adalah perjanjian untuk melepas kepemilikan terhadap CIHL dari ConocoPhillips International Investment kepada Medco Energi. Informasinya itu," jelas Dwi dalam Energy Corner CNBC Indonesia, Rabu (22/12/2021).


    ConocoPhillips melalui pernyataan resminya menyatakan bahwa penjualan aset 100% ConocoPhillips melalui ConocoPhillips Indonesia Holding Ltd kepada PT Medco Energi International Tbk (MEDC) untuk menambah saham di perusahaan migas Australia.


    ConocoPhillips akan menggunakan hasil dari penjualan aset di Indonesia untuk kepentingan kepemilikan saham tambahan di Australia Pacific LNG (APLNG) sebesar 10% dari Origin Energy.


    Dengan dilepaskannya seluruh saham di Blok Corridor ini, maka artinya ConocoPhillips tak lagi menjadi operator atau pun mengelola blok migas di Indonesia, baik blok produksi maupun eksplorasi.


    Saat ini, kata Dwi, prosesnya masih berjalan, termasuk sikap dari seluruh konsorsium yang terlibat, diantaranya ConocoPhillips, Talisman, dan PT Pertamina. Pemerintah pun sebenarnya juga sudah memperpanjang kontrak ConocoPhillips Blok Corridor yang akan berakhir pada Desember 2023.


    "Sedangkan nanti pada perpanjangan di 2023, [...] juga diperjanjikan juga, bahwa setelah tiga tahun perpanjangan, Pertamina dapat menjadi operator pengganti," kata Dwi melanjutkan.


    Dwi pun menjelaskan terkait beberapa 'raksasa' migas yang berencana hengkang dari Indonesia, seperti Shell dan Chevron.


    Seperti diketahui, Shell berencana melepas 35% hak partisipasi di Lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku. Padahal, proyek gas di Blok Masela ini merupakan salah satu proyek gas "raksasa" yang juga masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Presiden Joko Widodo.


    Proyek yang dipimpin oleh perusahaan Jepang, Inpex Masela Ltd, ini diperkirakan akan menelan dana hingga US$ 20 miliar dan ditargetkan bisa beroperasi pada 2027 mendatang.


    Dwi menjelaskan, divestasi dari para pemain migas ini merupakan hal lumrah di dunia pengeboran. Divestasi, kata Dwi, biasanya dilakukan tatkala secara kalkulasinya menguntungkan perusahaan.


    Sejauh ini, menurutnya rencana Shell tersebut belum terealisasi karena belum ada kesepakatan. Dengan demikian, Lapangan Abadi, Blok Masela masih dipimpin oleh Inpex Masela dan Shell juga masih memiliki hak partisipasi di blok gas ini.


    "Shell pun telah menyatakan, kalau tidak ada deal, ya Shell masih jadi pemegang saham Masela," jelas Dwi.


    Menurut Dwi, masing-masing korporasi memiliki alasan tersendiri dan itu sah-sah saja.


    "Sebagaimana kita tahu, Shell sendiri sangat serius di energi baru terbarukan dan dia juga serius di hilir. Itu kepentingan masing-masing," tuturnya.


    Sementara terkait Chevron, melalui unit usahanya, Chevron Indonesia Company (CICO) juga menyatakan akan mundur dari proyek gas laut dalam Indonesia Deepwater Development (IDD) di Kalimantan Timur.


    Pihak Chevron menyampaikan bahwa proyek IDD tahap 2 dengan nilai investasi menembus US$ 5 miliar itu tidak dapat bersaing untuk mendapatkan modal dalam portofolio global Chevron.


    Menanggapi mengenai rencana hengkangnya Chevron dari Tanah Air, dia mengatakan bahwa Chevron kini juga sedang mencari calon mitra penggantinya. Bila tidak juga ada kesepakatan dengan calon mitra pengganti, maka menurutnya Chevron akan terus melanjutkan proyek ini.


    "Jadi sekarang sedang mencari partner pengganti, tapi sejauh ada deal. Kalau tidak ada, ya kita akan melaksanakan sesuai ketentuan-ketentuan dan Chevron harus menindaklanjuti tahap pertama yang sekarang sedang dalam proses untuk melaksanakan untuk menyusun proyeknya," jelas Dwi.


    Begitu juga dengan pengelolaan Blok Rokan yang kini tak lagi dikelola Chevron, melainkan telah beralih ke PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sejak 9 Agustus 2021 lalu, Dwi mengklaim bahwa Chevron bukan mundur, tapi kalah dalam tender di Blok Rokan.


    "Chevron saya perlu klarifikasi di publik, di Rokan bukan Chevron mundur, tapi Chevron kalah dalam tender di Rokan," pungkasnya.


    Saksikan video di bawah ini:

    Ramai Raksasa Migas Hengkang, Simak Penjelasan SKK Migas!



    Artikel ini telah tayang di cnbc Indonesia (Red) 
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini