• Jelajahi

    Copyright © JAGUAR NEWS 77
    Best Viral Premium Blogger Templates

    More Post

    Iklan 928 X 200 Pixel

    Testing Covid-19 RI Kalah Dibanding Negara Menengah ke Bawah

    23/09/20, 14:29 WIB Last Updated 2020-09-23T07:29:30Z
    Ekonom Senior Faisal Basri menilai RI sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas lebih rendah melakukan testing covid-19 ketimbang negara menengah.
    Ekonom Senior Faisal Basri menilai RI sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas lebih rendah melakukan testing covid-19 ketimbang negara menengah. Ilustrasi. (Dok. Humas KPK).

    JAGUARNEWS77.com # Jakarta - Ekonom SeniorFaisal Basri menyoroti rendahnya jumlah testing virus corona (covid-19) di Indonesia. Dalam catatannya, jumlah testing di Indonesia lebih rendah, bahkan dibandingkan negara berpendapatan menengah ke bawah (lower middle income country)


    Kritikan Faisal terkait rendahnya jumlah testing virus corona di Indonesia tertuang dalam tulisan di laman website resminya, bertajuk Saatnya Ada Panglima Perang Purnawaktu Taklukkan Wabah Covid-19.


    "Sudah hampir tujuh bulan virus corona leluasa menyebar karena jumlah testing di Indonesia sangat rendah, baru sekitar 10 ribu per satu juta penduduk," tulisnya, dikutip Rabu, (23/9).



    Berdasarkan data dari Worldometer dan Bank Dunia, jumlah testing di Indonesia baru mencapai 10.761 per 1 juta penduduk.


    Jumlah tersebut, lebih rendah dari testing virus corona oleh sejumlah negara yang justru masuk kategori negara berpenghasilan menengah ke bawah. Padahal, Indonesia sendiri baru naik kelas menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas (upper middle income country) pada Juli 2020 lalu.


    Indonesia tertinggal dari Filipina dengan capaian testing sebanyak 30.937 per 1 juta penduduk, Bolivia sebanyak 24.552, Ghana 15.031, dan Bangladesh 11.114.


    Jumlah testing virus corona di Indonesia juga kalah dibandingkan Pakistan sebanyak 14.400 per 1 juta penduduk dan Nepal sebanyak 31.583 testing.


    "Di antara negara-negara dengan kasus di atas 10 ribu, jumlah tes di Indonesia hanya lebih tinggi ketimbang 10 negara berpendapatan rendah dan berpendapatan menengah-bawah di Afrika dan satu negara berpendapatan rendah di Asia, yaitu Afganistan," imbuh Faisal.


    Menurutnya, nyaris tidak ada alasan terhadap buruknya kinerja testing virus corona Indonesia. Padahal, ia menilai anggaran untuk penanganan covid-19, cukup besar yaitu Rp87,55 triliun khusus untuk sektor kesehatan.


    "Kesulitan mendapatkan peralatan dan reagen pun tak bisa diterima akal sehat. Negara-negara yang lebih miskin dari Indonesia, seperti Bangladesh, Pakistan, dan Filipina bisa melakukan tes lebih banyak," jelasnya.  


    Tak hanya kekurangan dari jumlah kuantitas, Faisal juga menilai kualitas testing Indonesia masih tertinggal. Ia mengatakan tambahan jumlah testing tidak disertai dengan strategi penelusuran atau pelacakan kontak.


    Kondisi ini tercermin dari nisbah pelacakan kontak secara nasional sangat rendah, yaitu sekitar 3. Bahkan, di DKI Jakarta, yang merupakan episentrum wabah, berdasarkan data dari kawalcovid19.id, rasio lacak isolasi (RLI) justru turun dari sekitar 4 pada Juni menjadi kurang dari 2 pada September.


    Padahal, WHO menganjurkan pelacakan antara 10-30 per satu kasus terkonfirmasi. "Ini ibarat tawanan perang yang bebas berkeliaran sesuka hati, bahkan sampai ke jantung pertahanan kita sendiri. Jadi, bagaimana mau menang perang kalau tanpa melalui berbagai medan pertempuran," pungkasnya.


    Sumber : cnn indonesia

    Oleh      : Redaksi jaguarnews77.com

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini