• Jelajahi

    Copyright © JAGUAR NEWS 77
    Best Viral Premium Blogger Templates

    More Post

    Iklan 928 X 200 Pixel


    Mantan Kadis Pertanian Merauke Bantah Atas Dugaan Korupsi Alsintan

    04/08/20, 21:04 WIB Last Updated 2020-08-04T14:06:17Z


    JAGUARNEWS77.com # Merauke, Papua - Terkait indikasi dugaan korupsi Alat Mesin Pertanian (Alsintan) di Kabupaten Merauke, Papua, kini dibantah Mantan Kepala Dinas Pertanian, Edy Santoso.



    Hal itu dijelaskan Edy Santoso saat dihubungi sepangindonesia.co.id pada Senin (02/08/2020) via seluler. Ia mengatakan, program Alsintan ini bukan hanya dibawah kepemimpinan saya. Jadi, sejak tahun 2006 sebenarnya sudah ada program bantuan Alsintan dari Kementerian Pertanian.



    “Saya menjabat 2017 akhir sampai 2019, kurang lebih sekitar 2 tahun. Sebelum saya, kepala dinasnya pak Bambang Wijatmoko, kebetulan sama-sama pensiun. Jadi, program Alsintan ini sudah cukup lama,” terang Edy Santoso.



    Lebih lanjut dijelaskan, program bantuan Alsintan ini dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendukung beberapa program, terutama program pengembangan lahan baru berupa cetak sawah baru yang utama adalah mendukung perluasan area.



    Kedua, kata dia, melalui Dirjen Prasarana Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (Dirjen PSP Kementan) untuk program optimalisasi lahan. Jadi, lahan-lahan tidur yang selama ini tidak tergarap itu didukung dengan bantuan alsintan melalui Kementerian Pertanian lewat Dirjen PSP.



    Mantan Kadis Pertanian Kabupaten Merauke ini melanjutkan, ketiga, mendukung program peningkatan tamanan pangan dan holtikultura, ini bantuan alsintanya dari Dirjen Tanaman Pangan dan Dirjen Hortikultura. Kebetulan dinas kami di Merauke Dinas TPH (Tamanan Pangan dan Holtikultura).


    “Selanjutnya untuk mendukung program Otsus (Otonomi Khusus), khusus untuk kampung-kampung lokal, orang-orang lokal asli Papua. Karena dana Otsus tidak terlalu besar yaitu kita alokasikan khusus untuk alat-alat produksi misalnya pupuk, karung, terpal, alsintanya kami minta dari Kementerian Pertanian,” ujar Edy Santoso.



    Bahkan, jelas Edy Santoso, bantuan alsintan itu untuk mendukung 4 program itu tadi. Jadi, bantuan alsintan untuk kabupaten Merauke cukup besar atau cukup banyak baik jumlah maupun jenis, karena untuk mendukung tanaman pangan dan holtikultura, itu kan alatnya masing-masing tiap bidang beda. Misalkan untuk holti sayuran berbeda, untuk sawah beda, untuk palawija ada yang sama dan ada yang tidak.



    “Pengadaan Alsintan ini semua bersumber dari dana APBN dan pelaksanaan pengadaannya itu oleh Kementerian Pertanian, ada sebagian dari provinsi. Tetapi dana APBN dan pengadaannya lewat provinsi. Kami ke provinsi sifanya hanya usulan,” jelas Edy Santoso.



    Selanjutnya, kata Edy Santoso, bantuan Alsintan ini, kami mengacu kepada Pedum (Pedoman Umum), misakan Pedum bagaimana untuk memperoleh bantuan Alsintan ini.



    Karena terkait dengan program, kata dia, untuk mengawali itu, misalkan untuk percetakan sawah kami ada rasio. Misalkan untuk traktor roda 4 itu rasionya 100 hektare 1 unit traktor roda 4. Kemudian untuk 10-15 haktare 1 unit hand traktor (traktor tangan), untuk mesin panen 1 unit 100 hektare.



    “Artinya kalau 1000 hektare kami butuhkan TR4 10 unit kan per 100. Tapi bantuannya misalakan ada 5 kampung ya kami bagi 5 kampung. Karena ini sifatnya bantuan,” tandas Edy Santoso.



    Dia melanjutkan, sehingga sesuai dengan Pedum, kami membijaksanai asas pemerataan dulu. Intinya setiap kampong (red-desa) ada bantuan dulu.


    “Untuk kampung-kampung lokal walapun hanya 5 haktare tetapi tetap kami bantu, walapun dalam rasio itu tadi harus 10-15 hektare untuk 1 unit bantuan. Karena nggak (red-tidak) mungkin untuk menanam 5 hektare dengan menggunakan cangkul itu mustahil atau tidak mungkin,” pintahnya.



    Bantuan alsintan melalui dana APBN ini, terang Edy Santoso, melalui dua jalur. Pertama, jalur regular (permohonan melalui CPCL atau Calon Petani Calon Lahan atau Calon Petani Calon Lokasi) hal itu melalui jalur kelompok dari petani dikirimkan kepada kami kemudian kami verifikasi usulan dari kelompok.


    “Artinya, verfikasi ini untuk melegalisasikan apakah kelompok penerima bantuan ini sudah terdata di Simpultan (Sistem Penyuluhan Pertanian)? setelah diverikasi dan certatat, maka kami setujui,” ujar Edy Santoso.



    Kedua, kata dia, melalui jalur Aspirasi yang dibawah oleh anggota DPR RI. Yang ke Merauke itu ada dari partai NasDem, PAN, dan PKB.



    Menurutnya, kalau yang jalur Aspirasi CPCLnya yang membuat dan mengusulkan melalui partai. Namun demikan, sejak saya menjabat dua tahun terkahir, usulan aspirasi pun kami verifikasi di Simpultan karena memang ya mohon maaf ada kelompok tani “abal-abal” atau tidak terdata.



    Untuk syarat-syat yang dibutuhkan terkait CPCL Alsintan, sambung Edy Santoso, Foto Kopi KTP untuk Ketua Kelompok Tani, Materai 6000 dua lembar, menandatangani BSDP diketahui oleh Kepala Dinas Pertanian, setelah semuanya di running cost dan semuanya lengkap maka diserahkan.


    Dok. Penyerahan Alat Mesin Pertanin kepada Kelompok Tani di Kabupaten Merauke. (Foto: Edy Santoso)



    Keberhasilan Bantuan Alsintan



    Edy Santoso juga mengungkapkan sejumlah terobosan-terobosan yang ia lakukan selama menjabat.


    Bagi Edy Santoso, dukungan alsintan untuk kabupaten Merauke dampaknya sangat luar biasa.


    Menurut Edy Santoso, perkembangan pertanian di Merauke mulai dari tahun 1969-2020 sesuai data yang ada di saya, mulai dari ratusan hektare, kemudian dari tahun 1980-an kabupaten Merauke merupakan kabupaten penerima transmigran terbesar dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, NTT, NTB sampai dengan terakhir tahun 1988 sekitar 179 kampung atau desa di Meruake itu, desa-desa ekstran sekitar 59 kampung.



    Saat itu, kalau saya tidak salah, urai Mantan Kadis Pertanian Merauke itu, luas tanaman padi kita sekitar 21.000 hektare itu sampai dengan program transmigrasi selesai. Nah, dalam perkembangan sampai sekarang (1998-sekarang), berkat alsintan untuk mendukung program pertanian khsusnya, tanam kita untuk padi mengalami lonjakan atau peningkatan luar biasa.



    Alhamdulillah, pada tahun 2019-2020 ini, kata dia, sudah mencapai 82.000 hektare untuk luas area tanam. Tentunya, peningkatan luas tanam harus di sesuikan dengan penghasilan dan produksi.



    Jenis dan Jumlah Alsintan per Juni 2019



    Edy Santoso membeberkan jenis dan alat bantuan alsintan yang diketahuinya. Berdasarkan cacatan saya selama menjabat sebagai yakni ada Tracktor Roda 4 (TR4) berjumlah 55 unit, Hand Tracktor atau Traktor Tangan (TR2) 84 unit, Power Treezer (Perontok Padi), Pompa Air 332 unit, Kultivator (Alat Olah Tanah untuk mengolah bedengan-bedengan sayur) 59 unit, Suprayer (alat untuk mengolah tanaman) sebanyak juli 2020 82 Unit, Translanter (alat untuk tanam bibit) 56 unit, ATJK (Alat Tanam Jagung) 30 unit, dan Komplanter.


    “Hal itu berdasarkan catatan saya, nanti akan dicocok lagi dengan bidang pengadaan barang/jasa,” kata dia.



    Terkait intervensi anggaran untuk program alsintan, kata dia, kami tidak tahu persis, karena anggaran itu di kelola oleh kementerian pertanian, sedanagkan ke kami berupa barang berdasarkan usulan CPCL.



    “Untuk anggaran sama sekali tidak, kami hanya menerima berupa alat,” jelas Edy.



    Rumor Dugaan Korupsi Alsintan



    Menanggapi hal itu, jelas Edy Santoso, pertama kami tidak menerima anggaran dalam bentuk dana cast melalui program bantuan alsintan ke dinas kabupaten, sehingga semua ini proses perencanaan, pengadaan, itu semua dilakukan di kementerian walaupun ada di provinsi itu hanya sebagian kecil itu pun di salurkan ke seluruh kabuapten di Papua.



    Sehingga bagi kami, kata Edy Santoso, tidak tau tentang proses anggaran karena semuanya ada di kementerian pertanian. Kami hanya mengajukan permohonan ke kementerian pertanian melalui kepala dinas provinsi berdasarkan rasio.



    Edy Santontoso juga menanggapi atas rumor adannya indikasi dugaan korupsi alsintan yang beredar akhir-akhir ini. Menurut saya, kata dia, itu tidak mungkin. Karena itu adalah dana yang cukup besar sehingga dilakukan pengawasan yang cukup ketat oleh pihak-pihak terkait.



    “Selama saya menjabat selalu di audit baik oleh Irjen, BPKP dan BPK, dan tidak tutup kemungkinan ada juga “KPK” itu hanya asumsi saya, apakah benar alat sudah disalurkan sampai ke petani,” ucap Edy.



    Untuk jalur aspirasi, lanjut Edy Santoso, CPCLnya dari jalur aspirasi (partai), tetapi tetap kami verifkasi, karena kami diberi tugas oleh kementerian pertanian untuk mengawas dan mengawal karena jangan sampai disalurkan tidak tepat sasaran.



    “Kalau salah sasaran insya Allah tidak, karena semua calon penerima adalah petani dan semua untuk mendukung program pertanian,” pungkas Edy Santoso


    Sumber : sepangindonesia.co.id

    Oleh      : Redaksi jaguarnews77.com

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini