• Jelajahi

    Copyright © JAGUAR NEWS 77
    Best Viral Premium Blogger Templates

    More Post

    Iklan 928 X 200 Pixel


    Bansos Tak Mampir di Rumah Nyaris Ambruk Nenek Sumi di Serang

    27/05/20, 15:18 WIB Last Updated 2020-05-27T08:20:18Z
    JAGUARNEWS77.com # Serang - Nenek Sumi (83) hidup berdua bersama anaknya, Darwis (40) di sebuah rumah yang atapnya nyaris ambruk di di Kampung Cinayong, RT 05 RW 01, Desa Malanggah, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Banten. Lebaran Nenek Sumi tanpa ketupat, apalagi opor. Beras tak punya, bantuan sosial dari pemerintah entah tak ada.


    Saat hujan turun, nenek dan anaknya harus mencari bagian rumah yang tak bocor untuk berteduh. Sang nenek tidur di dapur rumah, bersama kompor tungku. Kamar mandi Sumi tanpa pintu, terhubung langsung dengan dapur.


    Sang anak tidak bisa bekerja karena kaki kirinya lumpuh akibat di gigit ular tanah. Suami Sumi sudah lama meninggal dunia.


    Sumi mengeluh sudah tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, seperti Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsosratu), Program Keluarga Harapan (PKH) hingga Bansos Tunai (BST) ditengah pandemi covid-19 ini.


    Keduanya hanya menunggu uluran tangan dari tetangga atau saudara. Pada saat lebaran kemarin, Sumi mengaku tak pantas bisa makan kupat atau opor sebagaimana keluarga lain lakukan saat Idulfitri. Baju baru pun tak tak pernah mereka impikan.


    "Kalau makan seketemu aja, ada yang ngasih aja dari tetangga," kata Nenek Sumi ditemui di kediamannya, Selasa (26/5).


    Menuju rumah Sumi pun bukan perkara mudah. Tak ada akses jalan berlapis aspal atau beton. Rumah yang mereka tempati milik anak pertama Nenek Sumi, yang memilih bekerja merantau ke Angke, Jembatan Tiga, Jakarta. 


    "Bantuan enggak dapat, enggak ada pokoknya mah, (enggak) tahu yang lain mah kalau kita mah enggak pernah (dapat)," kata Darwin, putra bungsu Nenek Sumi.


    Kaki kirinya di gigit ular tanah satu tahun lalu saat berkebun. Akibat tidak ada biaya, diobati alakadarnya. Beruntung Darwin tidak sampai meninggal. Namun kini, kaki nya menghitam, untuk berjalan harus menggunakan penopang dari kayu yang dia buat sendiri. 

    Nenek Sumi (83) dan anaknya Darwis (40) tak bisa merayakan lebaran seperti warga lainnya karena belenggu kemiskinan.Nenek Sumi (83) dan anaknya Darwis (40) tak bisa merayakan lebaran seperti warga lainnya karena belenggu kemiskinan (CNN Indonesia/Yandhi).


    Jika tak ada makanan untuk di masak, Nenek Sumi dan Darwin hanya bisa pasrah sembari menunggu bantuan. Beruntung, dia kerap mendapatkan bantuan sembako dari personel TNI Korem 064/Maulana Yusuf.


    "Alhamdulillah aja dapet sembako dari Pak TNI," jelasnya.


    Di lokasi yang sama, Bakriah (74) yang rumahnya tepat di belakang rumah Nenek Sumi, juga mengaku belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. 


    Nenek Bakriah bercerita bahwa dia dan beberapa warga lainnya sempat diminta mengumpulkan foto kopi KTP dan Kartu Keluarga (KK), namun hingga kini belum ada tindaklanjutnya.


    "Didata mah didata, sensus, ditempel (stiker), masak enggak didata. Waktu bulan lalu ngumpulin KK, KTP. Iya katanya mau dapat (bantuan), Alhamdulillah belum," kata Nenek Bakriah, ditempat yang sama, Selasa (26/5). 


    Sumber : cnnindonesia
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini