• Jelajahi

    Copyright © JAGUAR NEWS 77
    Best Viral Premium Blogger Templates

    More Post

    Iklan 928 X 200 Pixel


    DASAR - DASAR JURNALISTIK

    17/07/19, 09:48 WIB Last Updated 2019-07-17T02:49:58Z
    OLEH : REDAKSI JAGUARNEWS77
    SUMBER : MEDIUM.COM
    SEBAGAI sebuah ilmu, jurnalistik mungkin terbilang masih baru dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Namun, jika dipandang sebagai sebuah proses atau kegiatan sosial yang dilakukan manusia, maka jurnalistik sudah ada seiring peradaban manusia. Dalam prakteknya, kegiatan jurnalistik mulai berkembang sejak ditemukannya alat cetak untuk membuat surat kabar. Kehadiran surat kabar tersebut diiringi pula dengan keinginan untuk mempelajari persuratkabaran, yang dalam bahasa Jerman disebut Zeitungswissenschaft, sedangkan orang Inggris menyebutnya Journalism, dan di Indonesia dikenal dengan sebutan Jurnalistik.
    Jurnalistik didefinisikan sebagai suatu keterampilan atau kegiatan mengelola bahan berita, mulai dari peliputan sampai pada penyusunan yang layak disebarluaskan kepada masyarakat secara rutin setiap hari, melalui surat kabar dan majalah atau memancarkannya melalui siaran radio dan siaran televisi. Bagi wartawan atau jurnalis, memahami ilmu dan teknik jurnalistik tentu merupakan hal yang mutlak. Namun demikian, masyarakat pembaca, pendengar, atau pemirsa pun penting mengenal dan memahami jurnalistik agar tidak menjadi objek pasif media massa.
    Wartawan, dengan aktivitasnya tersebut, dapat disebut saksi sejarah sekaligus terus menuliskan catatan sejarah. Mantan editor Washington Post, Phil Graham menggambarkannya sebagai “naskah kasar pertama sejarah” (a first rough draft of history) karena wartawan sering merekam peristiwa bersejarah pada saat kejadiannya dan pada saat yang sama harus membuat berita dalam tenggat waktu (deadline) yang pendek.
    Istilah jurnalistik itu sendiri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yakni : 1) secara harfiyah; 2) secara konseptual; dan 3) secara praktis. Secara harfiyah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau kepenulisan. Kata dasarnya jurnal(journal), artinya laporan atau catatan, atau jour dalam bahasa Prancis yang berarti hari (day). Asal-muasalnya dari bahasa Yunani kuno, du jour yang berarti hari, yakni kejadian hari ini yang diberitakan dalam lembaran-lembaran tercetak.
    Sedangkan secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari 3 (tiga) sudut pandang, yakni sebagai 1) proses; 2) teknik; dan 3) ilmu.
    · Sebagai proses
    Jurnalistik adalah aktivitas mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan (jurnalis).
    · Sebagai teknik
    Jurnalistik adalah keahlian (expertise) atau keterampilan (skill) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara.
    · Sebagai ilmu
    Jurnalistik adalah bidang kajian mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri.
    Sementara jurnalistik dalam sudut pandang praktis adalah disiplin ilmu dan teknik pengumpulan, penulisan, dan pelaporan berita, termasuk proses penyuntingan dan penyajiannya. Produk jurnalistik, yakni berita, disajikan atau disebarluarkan melalui berbagai jenis media massa, termasuk suratkabar, majalah, radio, dan televisi serta internet (media online). Setiap harinya, para jurnalis atau wartawan melakukan kegiatan peliputan berbagai peristiwa atau kejadian penting untuk selanjutnya diberitakan atau disiarkan agar peristiwa atau kejadian tersebut diketahui oleh publik secara luas dan serentak.
    Pengertian Jurnalistik
    Secara etimologis atau asal kata, istilah jurnalistik atau dalam bahasa Inggrisnya Journalism, dan dalam bahasa Belandanya Journalistiek, berasal dari perkataan Prancis, Journayang artinya surat kabar (Adinegoro, 1961). Istilah Journa sendiri berasal dari kata lain, Diurna, yang artinya tiap hari, harian, atau catatan harian (Muis, 1996).
    Sedangkan pelakunya disebut Diurnarii(latin) atau dalam bahasa Inggris disebut Journalist, yaitu orang yang bertugas untuk mengumpulkan, mengolah dan kemudian menyiarkan “catatan-catatan harian” itu untuk kemudian diistilahkan berita. Sementara berdasarkan suku kata, istilah Jurnalistik terdiri atas Jurnal dan Istik. Jurnal berarti harian atau tiap hari atau catatan harian, sedangkan Istik mengandung makna seni yang merujuk pada istilah estetika yang berarti ilmu pengetahuan tentang keindahan.
    Dengan demikian, secara maknawiyah, jurnalistik dapat diartikan sebagai suatu karya seni membuat catatan tentang peristiwa sehari-hari. Karya seni dimaksud memiliki nilai keindahan yang dapat menarik perhatian publik (pembaca, pendengar, pemirsa), sehingga dapat dinikmati dan dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya. Secara lebih luas, pengertian jurnalistik adalah seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifat, pendapat, opini dan perilaku khalayak (feedback) sesuai dengan kehendak para jurnalisnya atau media massanya.
    Seiring perkembangan Ilmu Jurnalistik, sejumlah pakar, praktisi, dan teoritisi komunikasi dan jurnalistik berupaya untuk mendefinisikannya dari berbagai sudut pandang masing-masing, kendati pada dasarnya memiliki makna yang hampir sama. Untuk memeroleh arti yang lebih jelas dan komprehensif mengenai Jurnalistik, berikut sejumlah definisi dari sejumlah pakar, tokoh dan teoritisi Ilmu Komunikasi dan Ilmu Jurnalistik berdasarkan sudut pandang dan interpretasi masing-masing.
    Jurnalistik adalah :
    Kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis di surat kabar, majalah, dan media massa lainnya,”
    KBBI,
    Seni kejuruan yang bersangkutan dengan pemberitaan dan persuratkabaran,”
    KIJ,
    Bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari (pada hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran dan pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada,”
    Ensiklopedi Indonesia,
    Teknik mengelola berita sejak dari mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskannya kepada khalayak. Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif saja,”
    Onong Uchjana Effendi,
    Suatu seni atau keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, serta menyajikan berita tentang suatu peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya,”
    Kustadi Suhandang,
    Kepandaian karang-mengarang yang pokoknya untuk memberi pekabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar kabar seluas-luasnya,”
    Adinegoro,
    Kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya,”
    Haris Sumadiria,
    Kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasannya mengenai berbagai peristiwa atau kejadian sehari-hari yang aktual dan faktual dalam waktu yang secepat-cepatnya,”
    A.W. Widjaya,
    Suatu kepandaian praktis dalam mengumpulkan dan untuk selanjutnya mengedit berita untuk dijadikan pemberitaan dalam surat kabar, majalah, atau terbitan-terbitan berkala lainnya. Selain bersifat ketrampilan praktis, jurnalistik juga merupakan seni,”
    M. Ridwan,
    Kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat,”
    Kris Budiman,
    Pengiriman informasi dari sini ke sana dengan benar, seksama, dan cepat, dalam rangka membela kebenaran dan keadilan,”
    Erik Hodgins,
    Laporan tentang kejadian-kejadian yang sedang berlangsung pada saat ditulis, bukan kabar yang sudah definitif tentang suatu keadaan,”
    Edwin Emery,
    Pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran,”
    Roland E. Wolseley,
    Journalism ambraces all the forms in which and trough wich the news and moment on the news reach the public (Jurnalistik adalah segala bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati),”
    F. Fraser Bond,
    Merujuk pada pengertian jurnalistik yang dikemukakan oleh para praktisi dan teoritisi ilmu komunikasi maupun ilmu jurnalistik tersebut, maka secara umum, jurnalistik mengandung pengertian sebagai suatu kegiatan mengumpulkan, mengolah serta menyebarkan pemberitaan kepada publik seluas-luasnya dalam waktu yang cepat kepada jumlah audience atau khalayak sebanyak-banyaknya.
    Dengan kata lain, jurnalistik adalah suatu proses pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari kegiatan peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat.
    Apa yang diliput dan apa yang disebarkan tersebut adalah suatu peristiwa atau kejadian yang aktual dan atau pendapat seseorang (opini) terhadap suatu peristiwa yang diperkirakan akan menarik perhatian khalayak.
    Sesuatu yang menarik itulah yang kemudian menjadi bahan dasar kegiatan jurnalistik, yakni sebagai materi berita untuk kemudian diolah dan disebarkan seluas-luasnya kepada masyarakat atau khalayak secara selekas-lekasnya.
    Ambiguitas Jurnalistik
    Sedikitnya terdapat dua (2) aspek yang berkaitan dengan ambiguitas jurnalistik, di antaranya : 1) Jurnalisme; dan 2) Pers, sebagaimana dipaparkan di bawah ini.
    · Jurnalisme
    Pergulatan makna jurnalistik dengan jurnalisme sampai saat ini masih menjadi perdebatan dan menjadi bahan diskusi para pakar. Orang sering bingung menyebut atau membedakan antara jurnalistik dengan jurnalisme.
    Menurut Webster Dictionary, jurnalisme adalah kegiatan mengumpulkan berita atau memproduksi sebuah surat kabar. Dengan kata lain, jurnalisme adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang wartawan, sedangkan jurnalistik merupakan kata sifat (ajektif) dari jurnalisme.
    Pada hakekatnya, jurnalistik merupakan sifat dari kegiatan jurnalisme. Dengan kata lain, jurnalisme merupakan kata benda dan jurnalistik kata sifat. Jurnalisme itu sendiri merupakan paham, aliran, teknik, desain, atau gaya pelaporan peristiwa, ide, pemikiran, atau opini melalui media massa.
    Jurnalisme juga merupakan bidang disiplin dalam mengumpulkan, memastikan, melaporkan, dan menganalisis informasi yang dikumpulkan mengenai kejadian sekarang, termasuk tren, masalah maupun tokoh atau selebritas.
    · Pers
    Istilah jurnalistik selain ambigu dengan istilah jurnalisme juga dipandang tumpang tindih dengan istilah pers. Secara fungsional, jurnalistik memang tidak bisa dipisahkan dari pers. Namun secara ilmiah, jurnalistik selalu dapat dipisahkan daripadanya. Perbedaan prinsipilnya, Jurnalistik adalah bentuk komunikasinya, dan pers merupakan medium dimana jurnalistik itu disalurkan (M.O. Palapah, 1976).
    Pers dan jurnalistik ibarat jiwa dan raga. Jurnalistik adalah aspek jiwa, karena ia bersifat abstrak, merupakan kegiatan, daya hidup, menghidupi aspek pers. Sedangkan Pers adalah aspek raga, karena ia berwujud, konkret, nyata, karenanya, ia dapat diberi nama.
    Dengan demikian, maka pers dan jurnalistik merupakan dwitunggal. Pers tidak mungkin beroperasi tanpa jurnalistik, sebaliknya jurnalistik tidak akan mungkin mewujudkan suatu karya bernama berita tanpa peran pers di dalamnya.
    Tetapi pers yang dimaksud di sini adalah pers dalam arti sempit, yakni surat kabar atau media cetak, termasuk di dalamnya, majalah, buletin, dan tabloid. Hal ini selaras dengan pengertiannya secara etimologis, yakni “pers” (Belanda), “press” (Inggris) yang berasal dari bahasa latin “pressare” dari kata “premere” yang berarti “tekan”.
    Sedangkan pers dari sudut pandang terminologis mengandung arti “media massa cetak”, dalam bahasa Belandanya “drukpers” atau “pers”. Sedangkan bahasa Inggris menyebutnya “printed media” atau “printing media” atau “press”.
    Karenanya, istilah pers menjadi lazim dipadankan dengan istilah surat kabar itu sendiri, bahkan pengertian wartawan sebagai pelaku jurnalistik menjadi bagian di dalamnya. Karena Belanda memiliki nilai historis yang paling dekat dengan Indonesia, maka di Indonesia lebih popular dengan istilah “pers” ketimbang “press”.
    Jurnalistik Sebagai Ilmu
    Dewasa ini, bidang Jurnalistik mengalami perkembangan yang sangat signifikan seiring dengan akselerasi era informasi berikut perkembangan teknologi komunikasi di dalamnya. Karenanya, Jurnalistik dipandang sebagai suatu ilmu, proses dan karya (Wahyudi, 1996).
    · Jurnalistik sebagai ilmu adalah salah satu ilmu terapan dari ilmu komunikasi yang mempelajari keterampilan seseorang dalam mencari, mengumpulkan, menyeleksi, mengolah informasi yang mengandung nilai berita (news value) menjadi karya jurnalistik serta menyajikan kepada khalayak baik melalui media cetak maupun media elektronik.
    · Jurnalistik sebagai proses adalah setiap kegiatan mencari, mengumpulkan, menyeleksi, mengolah informasi yang mengandung nilai berita (news value) menjadi karya jurnalistik serta menyajikan kepada khayayak baik melalui media cetak maupun media elektronik.
    · Jurnalistik sebagai karya adalah uraian fakta dan atau pendapat yang mengandung nilai berita (news value) dan penjelasan masalah hangat yang sudah disaksikan kepada khalayak, baik melalui media cetak maupun media massa elektronik.
    Dalam konteks jurnalistik sebagai ilmu, Robert B (Effendy, 1984) sewaktu menyusut urutan ilmu menganggap bahwa jurnalistik sebagai ilmu, dalam hal ini ilmu terapan (ilmu terpakai). Hal ini tidak mengherankan karena pada tahun 1457, Jurnalisme di Amerika serikat sudah berkembang menjadi ilmu (science) bukan sekadar pengetahuan (knowledge).
    Hal ini tidak terlepas dari peran seorang tokoh pers dunia asal Amerika Serikat, Joseph Pulitzer yang mendirikan “School of Journalism” pada tahun 1903 dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan para wartawan kala itu.
    Gagasan Pulitzer tersebut selanjutnya mendapat dukungan penuh dari Rektor Harvard University, Murray Buttler, karena ternyata jurnalisme tidak hanya mempelajari dan meneliti hal-hal yang bersangkutan dengan persuratkabaran semata, melainkan juga media massa lainnya, seperti radio dan televise.
    Selain menyiarkan pemberitaan melalui radio dan televise, juga menyiarkan produk-produk siaran lainnya. Atas kenyataan tersebut, maka jurnalisme berkembang menjadi mass communication (komunikasi massa).
    Namun perkembangan selanjutnya, komunikasi massa dianggap tidak tepat lagi karena tidak merupakan proses komunikasi yang menyeluruh. Penelitian yang dilakukan Lazasfeld, Wilbur Schramm dan sejumlah cendekiawan lainnya menunjukkan bahwa gejala ssosial yang diakibatkan media ternyata tidak hanya berlangsung satu tahap (one step flow communcation) melainkan banyak tahap atau two step communction dan multi step communication.
    Sementara mengenai jurnalistik sebagai suatu proses harus dilihat sebagai suatu proses komunikasi. Dalam hubungan ini, mengacu kepada paradigma Lasswell yang sangat populer, yakni ”Who says what in which channel to whom with what effect — Siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa, dengan efek yang bagaimana –”.
    Berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi atau jurnalistik juga bisa diartikan sebagai ”Proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media untuk menimbulkan efek tertentu,”
    Sedangkan dalam kaitan jurnalistik sebagai suatu karya dimaksudkan bahwa penerapan kegiatan jurnalistik ke dalam karya jurnalistik dapat melalui media masa cetak, elektronik maupun media massa baru, yakni media online. Penyajian informasi atau berita melalui media massa harus disesuaikan dengan sifat fisk medianya agar isi pesan dapat diterima dan dimengerti dengan baik oleh khalayak.
    Ruang Lingkup Jurnalistik
    Menggambarkan ruang lingkup terhadap suatu disiplin ilmu yang sedang berkembang bukanlah hal yang mudah. Hingga kini sebetulnya belum ada ruang lingkup jurnalistik yang dapat diterima semua kalangan.
    Kendati sudah memadai namun belum begitu terperinci, namun ruang lingkup jurnalistik yang diketengahkan oleh M.O Palapah dan Syamsudin (1976) dalam bukunya ‘Studi Ilmu Komunikasi” sampai saat ini tetap menjadi rujukan atau literasi dari studi ilmu Komunikasi maupun kajian ilmu Jurnalistik. Dalam hal ini, keduanya membagi ruang lingkup jurnalistik ke dalam dua bagian, yakni News dan Views.
    1. News
    News adalah berita, yakni penyajian kumpulan bahan keterangan (informasi) atau laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual) serta laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting atau luar biasa. News terdiri atas Straight News dan Feature News.
    1. Straight News
    Adalah berita langsung, dalam arti penulisan berita ini ditulis apa adanya berdasarkan fakta atas kejadian. Tidak berbelit belit serta mengutamakan nilai aktualitas. Sifat utamanya adalah lugas, singkat dan langsung ke pokok persoalan dengan dukungan fakta-fakta akurat, namun tanpa mengabaikan kelengkapan data dan obyektivitas.
    Berita jenis ini harus memenuhi unsur 5W+1H secara ketat dan harus cepat-cepat disiarkan atau dipublikasikan, karena terlambat sedikit maka berita akan dianggap basi. Straight news terdiri atas :
    § Matter of Fact News
    Adalah berita yang hanya mengemukakan fakta utama yang terlibat dalam suatu peristiwa itu saja. Berita langsung jenis ini ditulis cenderung pendek, terdiri atas dua atau tiga alinea.
    § Interpretative Report
    Adalah pengungkapan peristiwa disertai usaha memberikan arti pada peristiwa tersebut, menyajikan interpretasi (Jakob Oetama, 1975). Berita interpretatif memfokuskan pada sebuah isu, masalah, atau peristiwa-peristiwa yang bersifat kontroversial.
    Namun demikian, fokus laporan beritanya masih tetap menyampaikan tentang fakta yang ada dan bukan opini. Dalam jenis berita ini, wartawan atau penulis dituntut untuk dapat melakukan analisis dan menjelaskan persoalan yang terjadi dengan jelas.
    Berita jenis ini sangat tergantung pada pertimbangan nilai (value) dan fakta yang ada. Wartawan yang menulis berita ini pada umumnya mencoba menerangkan berbagai peristiwa publik melalui penggalian informasi yang diperoleh langsung dari para narasumber.
    Laporan interpretatif biasanya dipusatkan untuk menjawab pertanyaan “mengapa”, misalnya mengapa kenaikan BBM diprotes rakyat? mengapa calon presiden harus yang tegas? Mengapa aksi terorisme semakin menggejala? Mengapa aksi demo selalu marak terjadi? Dan lain sebagainya. Untuk dapat menurunkan berita jenis ini, wartawan biasanya mencari alasan-alasan dengan menggali informasi dari para narasumber yang terpercaya.
    § Reportage
    Menurut kaidah Jurnalistik, reportage atau reportase adalah pemberitaan suatu peristiwa, pernyataan, keterangan, pendapat atau ide melalui teknik liputan langsung ke tempat kejadian, wawancara atau studi literasi.
    Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), reportase adalah pemberitaan, pelaporan, dan teknik yang diajarkan kepada wartawan mengenai laporan kejadian berdasarkan pengamatan atau sumber tulisan.
    2. Feature News
    Berita feature atau feature adalah merupakan tulisan khas yang menggabungkan unsur jurnalistik dengan unsur sastra serta dapat mengabaikan segala aktualitas. Feature dapat mengajikan kebenaran objektif namun juga terkadang subjektif dan cenderung mengutamakan segi minat insani. Materinya bersifat ringan, menghibur, menenangkan, merangsang dan menimbulkan rasa emosional serta mengundang imajinasi pembaca dan memberi, menambah atau meningkatkan informasi tentang suatu keadaan atau peristiwa, masalah, gejala, proses, aspek-aspek kehidupan, termasuk juga latar belakang. (Pratikno, 1984).
    Sekaitan dengan itu, menurut Wolseley dan Campbell, berita feature terdiri atas beberapa jenis, antara lain, 1) Feature minat insani; 2) Feature sejarah; 3) Feature biografi; 4) Feature perjalanan; 5) Feature yang mengajarkan keahlian; 6) Feature ilmiah.
    2. Views
    Views adalah opini, pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah, kejadian atau peristiwa. Secara garis besar, Views terdiri atas editorial, special artikel, coloum dan feature artikel.
    1. Editorial
    Editorial atau tajuk rencana adalah opini berisi pendapat atau sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal, atau kontroversial yang berkembang di masyarakat. Opini yang ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap resmi media yang bersangkutan.
    Adapun editorial atau tajuk rencana sebuah media mempunyai sifat-sifat, di antaranya :
    · Krusial dan ditulis secara berkala, namun tergantung dari jenis terbitan medianya sendiri, bisa harian (daily), atau mingguan (weekly), atau dua mingguan (biweekly) dan bahkan bulanan (monthly).
    · Isinya menyikapi situasi yang berkembang di masyarakat luas, baik aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, hukum, pemerintahan atau olahraga bahkan hiburan, tergantung jenis liputan medianya.
    · Memiliki karakter atau konsistensi yang teratur kepada pembacanya terkait sikap dari media massa yang menulis tajuk rencana.
    · Terkait erat dengan kebijakan media atau kebijakan media yang bersangkutan. Karena setiap media mempunyai perbedaan iklim tumbuh dan berkembang dalam kepentingan yang beragam, yang menaungi media tersebut.
    2. Special Articles
    Merupakan tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dan atau kontroversial dengan tujuan untuk memberitahukan (informatif), memengaruhi dan menyakinkan (persuasif argumentatif) atau menghibur khalayak pembaca (rekreatif). Secara teknis jurnalistik, artikel adalah salahsatu bentuk opini yang terdapat dalam surat kabar atau majalah.
    3. Column
    Adalah opini singkat seseorang yang lebih banyak menekankan aspek pengamatan dan pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan yang terdapat atau terjadi di dalam masyarakat. Kolom lebih banyak mencerminkan cap pribadi penulis. Sifatnya memadat memakna, berbeda dengan sifat artikel yang memapar melebar. Kolom ditulis secara inferensial, sementara artikel ditulis secara referensial. Biasanya dalam tulisan kolom terdapat foto sang penulis.
    4. Feature Articles
    Feature artikel adalah tulisan-tulisan mengenai suatu keadaan, kejadian, sesuatu hal, seseorang, sesuatu pikiran, sesuatu idiologi, tentang ilmu pengetahuan dan seterusnya yang dikemukakan sebagai pemberitaan dan atau informasi dengan tekanan terutama pada segi-segi rasa manusiawi yang mengandung nilai hiburan.
    Berbeda dengan feature berita yang terikat pada deadline, penulisan feature artikel dapat lebih tenang, tidak terburu-buru oleh waktu bahkan ada feature artikel yang apabila misalnya di muat setahun kemudian masih tetap dapat diterima dan dinikmati oleh pembacanya.
    Sementara perbedaannya dengan artikel adalah bahwa artikel lebih mengarah dan mengandung teori, pendapat, dan permasalahan. Karenanya tulisan artikel menjadi teoritis dan problematis bahkan menyebabkan pembaca mengernyitkan dahi ketika membacanya. Sedangkan feature artikel penuh dengan cerita human interest (Adi Subrata, 1991).
    Selain menghibur dan informatif, feature artikel juga di tulis dan diwarnai secara pribadi oleh wartawan atau penulisnya itu sendiri. Sengaja diwarnai agar menarik dibaca, sesuai dengan fungsi feature itu sendiri, yakni mengemukakan suatu pribadi dan melukiskan suasana.
    Karakteristik Jurnalistik
    Jurnalistik atau jurnalisme menurut Luwi Ishwara (Kris Budiman, 2005) dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Jurnalistik” mempunyai ciri-ciri atau karakteristik yang penting untuk diperhatikan, antara lain :
    · Skeptis; adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu. Inti dari skeptis adalah keragu-raguan. Karenanya, media massa biasanya tidak puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat. Wartawan akan terjun langsung ke lapangan, berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif dari suatu peristiwa sebagai bahan berita.
    · Bertindak (action); adalah wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan (sense of social).
    · Berubah; adalah perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur informasi, tetapi bertindak sebagai fasilitator, penyaring (filter) dan pemberi makna dari sebuah informasi.
    · Seni dan Profesi; adalah wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik dan menarik di tengah kehidupan masyarakat.
    · Peran Pers; adalah pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik. Melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga (watchdog), dan pembuat kebijaksanaan serta advokasi.
    Elemen Jurnalistik
    Jurnalistik hadir untuk membangun masyarakat. Jurnalistik ada untuk memenuhi hak-hak warga negara, dan jurnalistik ada untuk demokrasi. Namun, tujuan utama dari jurnalistik adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri.
    Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya yang berjudul “The Elements of Journalism” merumuskan 9 (sembilan) elemen jurnalistik (jurnalisme) yang diperoleh setelah Committee of Concerned Journalistsmengadakan banyak diskusi dan wawancara dengan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun.
    Rumuskan 9 (sembilan) elemen jurnalistik tersebut yang sejatinya harus diketahui dan menjadi landasan wartawan dalam menjalankan tugas kejurnalistikannya terdiri atas :
    1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
    Saat pers modern mulai terbentuk bersama dengan kelahiran teori demokrasi, janji untuk berlaku jujur dan akurat dengan cepat menjadi bagian yang kuat dari pemasaran surat kabar yang paling awal.
    “Kebenaran jurnalistik” ini adalah lebih dari sekedar akurasi. Pengejaran kebenaran tidak berat sebelah (fair) adalah yang paling membedakan dari bentuk komunikasi yang lain.
    Secara alami jurnalistik bersifat reaktif dan praktis, ketimbang filosofis dan introspektif, yakni suatu bentuk kebenaran yang bisa dipraktikkan dan fungsional. Warga menjalani hidup berdasarkan kebenaran tersebut untuk sementara waktu karena hal ini penting untuk penyelenggaraan kehidupan sehari-hari.
    Wartawan perlu mengembangkan prosedur dan proses untuk sampai pada kebenaran fungsional. Sama seperti dilakukan polisi, hakim, guru, pengaturan pajak, pembuatan UU, dan lain-lain.
    Semuanya subjek untuk direvisi dengan metode yang bermacam-macam. Agar kewajiban pertama itu terpenuhi, langkah berikutnya adalah wartawan harus memperjelas kepada siapa menujukan loyalitas pertama mereka.
    2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara
    Jurnalisme bekerja untuk warga. Komitmen kepada warga lebih besar ketimbang egoisme profesional. Kesetiaan kepada warga ini adalah hakekat dari makna indepedensi jurnalistik. Sayangnya komersialisme yang melanda perusahaan-perusahaan media membuat wartawan bingung tentang loyalitas mereka.
    Sebenarnya pemilik perusahaan media harus mendahulukan warga (kepentingan publik). Pasalnya, merekalah yang sering memilih dan memutuskan kualitas berita. Oleh karena itulah maka para pemilik perusahaan media perlu mengkomunikasikan standar yang jelas kepada wartawan dan publik.
    Namun Jika wartawan menunjukkan komitmen pertamanya kepada warga, lantas bagaimana dengan orang lain yang bekerja di media, seperti bagian penjualan iklan, bagian sirkulasi, para pengemudi truk, penerbit, dan pemilik? Apa yang bisa diharapkan warga dari mereka? Apa hubungan mereka dengan redaksi?
    Hal ini tentu saja merupakan sinyalemen bahwa ternyata hubungan bisnis jurnalisme berbeda dari pemasaran untuk konsumen tradisional, dan dalam beberapa hal lebih rumit. Ini sebuah segitiga dimana audiens atau khalayak bukanlah pelanggan yang membeli barang dan jasa., namun pengiklanlah sang pembeli.
    Namun pelanggan/pengiklan harus menjadi nomor dua dalam segitiga tersebut di bawah warga. Di sinilah dikenal sebagai konsep pagar api (firewall). Garis ini adalah lambang pagar api yang mencerminkan prinsip antara berita dengan iklan harus tegas dipisahkan.
    Sejarah menunjukkan bahwa rencana bisnis yang menempatkan khalayak mendahului kepentingan politik dan keuntungan finansial jangka pendek adalah strategi keuangan jangka panjang terbaik.
    3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
    Disiplin verifikasi adalah ihwal yang memisahkan jurnalistik dari hiburan, propaganda, fiksi, atau seni. Hanya jurnalistik yang sejak awal berfokus untuk menceritakana apa yang terjadi setepat-tepatnya. Namun, hal ini dapat menghilangkan makna dari objektivitas karena disiplin verifikasi tersebut sangat bersifat pribadi (personal) sehingga begitu sering secara serampang dikomunikasikan.
    Adapun 5 (lima) konsep dalam verifikasi menurut Kovach dan Rosenstiel antara lain :
    1. Jangan menambah atau mengarang apapun.
    2. Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar.
    3, Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase.
    4. Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri.
    5. Bersikaplah rendah hati.
    Dalam melakukan verifikasi, setidaknya terdapat 2 (dua) metodologi, yakni :
    1) Penyuntingan secara skeptis. Penyuntingan harus dilakukan baris demi baris, kalimat demi kalimat dengan sikap skeptis. Banyak pertanyaan, banyak gugatan;
    2) Memeriksa akurasi. Akurasi atau akurat adalah semua informasi yang disuguhkan, tidak kurang, tidak berlebihan, dengan sumber-sumber yang jelas, nama lengkap, angka, waktu, jarak, ukuran, tempat, dan sebagainya.
    4. Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya
    Hal ini berlaku bahkan pada mereka yang bekerja di ranah opini, kritik, dan komentar. Independensi semangat dan pikiran inilah dan bukannya netralitas yang harus diperhatikan sungguh-sungguh oleh wartawan. Independensi semangat bahkan menjangkau penulisan opini yang tidak ideologis.
    Namun, persoalan independensi tidak terbatas pada ideologi. Saat wartawan menjadi lebih terlatih, berpendidikan lebih tinggi, dan dalam banyak hal mendapatkan bayaran (kompensasi) lebih baik, maka muncullah komplikasi lain tentang independensi.
    Konsep independensi adalah persoalan praktik bukannya teori. Pentingnya independensi kian jelas saat publik menyimak kewajiban khusus jurnalistik berikutnya, yakni dalam kaitan perannya sebagai anjing penjaga (watchdog).
    5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan
    Jurnalistik harus menjadi pemantau kekuasaan. Prinsip ini sering disalahpahami bahkan oleh wartawan. Prinsip anjing penjaga (wacthdog) ini tengah terancam dalam jurnalistik dewasa ini oleh penggunaannya yang berlebihan, dan oleh peran anjing penjaga palsu yang lebih ditunjukkan untuk menyajikan sensasi ketimbang pelayan publik. Lebih parahnya lagi, peran anjing penjaga terancam oleh jenis baru konglomerasi perusahaan, yang secara efektif bisa merusak independensi yang dibutuhkan pers untuk menjalankan peran pemantauan mereka. Prinsip anjing penjaga bermakna tak sekedar memantau pemerintahan, tapi juga meluas hingga pada semua lembaga yang kuat di masyarakat untuk mencegah terjadinya tirani.
    Tujuan peran anjing penjaga juga berkembang, ia tak hanya menjadikan manajemen dan pelaksana kekuasaan transparan semata, tapi juga menjadikan akibat dari kekuasaan itu diketahui dan dipahami. Karenanya, Pers harus mengenali kapan lembaga kekuasaan bekerja secara efektif, dan kapan tidak. Dengan demikian, maka seorang wartawan kini dituntut untuk lebih mengembangkan liputan bersifat investigatif guna menyingkap cara pandang baru sekaligus informasi baru tentang sebuah masalah. Prinsip ini mensyaratkan ketrampilan khusus, temperamen khusus, dan ’rasa lapar’ yang khusus. Prinsip ini juga mensyaratkan komitmen serius dari sumber, hasrat untuk meliput masalah yang penting, dan sebuah pers yang independen dari kepentingan apapun, kecuali untuk warga.
    6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi
    Laporan berita bukanlah kata-kata yang tercetak beku, dan mereka tidak hidup dalam ruang hampa; mereka adalah bagian percakapan. Sekalipun percakapan sudah pasti melibatkan pertukaran informasi, sebagian besar merupakan pertukaran ide dan opini.
    Penyedia berita kini menciptakan sejumlah saluran yang memungkinkan warga berinteraksi. Saluran ini bisa meliputi surat, email, kontak telepon, ruang untuk menulis kolom opini, serta kesempatan untuk membuat saran berita, dan ombudsman. Selain itu, juga terkait penampilan publik oleh anggota staf dalam acara pertemuan-pertemuan umum, rapat akbar, diskusi panel, juga dialog radio interaktif dan penampilan televisi. Bahkan, pada 1840, Houston Star merupakan suratkabar pertama yang menghadirkan ruang tunggu di kantornya.
    Diskusi publik harus dibangun di atas prinsip-prinsip yang sama sebagaimana hal lain dalam jurnalistik, yakni prinsip kejujuran, fakta, dan verifikasi. Forum yang tak punya sikap hormat pada fakta akan gagal memberi informasi. Sebuah debat yang dipenuhi prasangka dan pengandaian hanya akan menimbulkan amarah belaka. Dengan demikian, jurnalistik harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat. Fungsi forum pers ini bisa menghasilkan demokrasi bahkan di negara besar sekalipun. Caranya adalah mendorong sesuatu yang disebut dasar bangunan demokrasi yaitu kompromistis. Jurnalistik harus menyediakan sebuah forum untuk kritik dan kompromi publik. Diskusi publik harus dibangun di atas prinsip-prinsip yang sama sebagaimana hal lain dalam jurnalistik.
    7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
    Jurnalistik harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan. Ketika orang bicara tentang membuat berita menjadi enak dibaca dan relevan, dan diskusi menjadi dialektis, maka jurnalistik adalah mendongeng dengan sebuah tujuan, yakni menyediakan informasi yang dibutuhkan orang dalam memahami dunia.
    Tantangannya adalah menemukan informasi yang orang butuhkan dan membuatnya bermakna, relevan, dan enak disimak. Dengan kata lain, tanggung jawab wartawan adalah bukan sekedar menyediakan informasi, tapi menghadirkan sedemikian rupa sehingga orang tertarik untuk menyimak.
    8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
    Jurnalistik harus menyiarkan berita komprehensif dan proposional. Ia adalah sebuah katografi modern yang menghasilkan sebuah peta bagi warga untuk mengarahkan persoalan masyarakat. Itulah manfaat dan alasan ekonomi kehadiran jurnalistik.
    Konsep kartografi tersebut membantu menjelaskan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Nilai-nilai jurnalistik tergantung pada kelengkapan dan proporsionalitas. Mengumpamakan jurnalistik sebagai sebuah peta yang membantu publik melihat bahwa proporsi dan komprhensivitas menjadi kunci akurasi.
    9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya
    Seorang jurnalis harus diperbolehkan mengikuti hati nurani mereka. Setiap jurnalis, dari redaksi hingga dewan direksi harus mempunyai rasa etika dan tanggung jawab sosial. Terlebih lagi, mereka mempunyai rasa tanggung jawab untuk menyuarakan sekuat-kuatnya hati nurani mereka dan membiarkan yang lain melakukan hal yang serupa. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka sikap keterbukaan dari jajaran redaksi adalah hal yang penting untuk memenuhi semua prinsip sembilan elemen jurnalistik tersebut.
    Bahasa Jurnalistik
    Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain. Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers.
    Bahasa jurnalistik itu sendiri juga memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis tulisan apa yang akan terberitakan. Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menuliskan reportase investigasi tentu lebih cermat bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features. Dalam menulis banyak faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik bahasa jurnalistik karena penentuan masalah, angle tulisan, pembagian tulisan, dan sumber (bahan tulisan).
    Namun demikian, bahasa jurnalistik sesungguhnya tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia baku dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis dan wacana (Reah, 2000). Karena berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Kosakata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa dalam masyarakat.
    Sifat-sifat tersebut merupakan hal yang harus dipenuhi oleh ragam bahasa jurnalistik mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Dengan kata lain bahasa jurnalistik dapat dipahami dalam ukuran intelektual minimal.
    Hal ini dikarenakan tidak setiap orang memiliki cukup waktu untuk membaca surat kabar atau majalah. Oleh karena itu, bahasa jurnalistik sangat mengutamakan kemampuan untuk menyampaikan semua informasi yang disajikan kepada pembaca dengan mengutamakan daya komunikasinya. Dengan perkembangan jumlah pers yang begitu pesat pasca pemerintahan Soeharto — lebih kurang ada 800 pelaku pers baru — bahasa pers juga menyesuaikan pasar. Artinya, pers sudah menjual wacana tertentu, pada golongan tertentu, dengan isu-isu yang khas.
    Karakteristik Bahasa Jurnalistik
    Secara spesifik bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya, yaitu bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa jurnalistik majalah, bahasa jurnalistik radio siaran, bahasa jurnalistik televisi dan bahasa jurnalistik media online.
    Haris Sumadiria (2004) dalam bukunya ”Menulis Artikel dan Tajuk Rencana” menyebutkan ciri- ciri utama bahasa jurnalistik yang dapat dipakai oleh semua bentuk media, di antaranya :
    · Sederhana, selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen.
    · Singkat, secara langsung kepada pokok masalah, tidak bertele- tele, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga.
    · Padat, sarat informasi maksudnya setiap kalimat dan paragraph yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.
    · Lugas, berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bias membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.
    · Jernih, berarti bening, tembus pandang, transparan,jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah.
    · Jelas, mudah ditangkap maksudnya, tidak kabur.
    · Menarik, mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tidur,terjaga seketika.
    · Populis, artinya setiap kata, istilah atau kalimat apa pun yang terdapat dalam karya- karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata dan di benak pikiran khalayak pembaca, pendengar.
    · Logis, apapun yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat.
    · Demokratis, bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa atau pihak yang disapa sebagaimana yang dijumpai dalam gramatika bahasa Sunda dan bahasa Jawa.
    · Gramatikal, kata, kalimat atau istilah apa pun yang dipakai dan dipilih dalam bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku.
    · Menghindari kata tutur, yaitu kata yang biasa digunakandalam percakapan sehari- hari secara informal.
    · Menghindari kata dan istilah asing, artinya pembaca harus mengetahui makna setiap kata yang dibaca dan didengar.
    · Pilihan kata (diksi) yang tepat, karena bahasa jurnalistik sangat menekankan pada efektivitas.
    · Mengutamakan kalimat aktif, karena lebih mudah dipahami, dimengerti dan disukai oleh khalayak pembaca daripada penggunaan kalimat pasif.
    · Menghindari kata atau istilah teknis, karena ditujukan untuk umum bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut.
    · Tunduk kepada kaidah etika, salah satu fungsi utama pers adalah edukasi, mendidik.
    Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
    Kemerdekaan berpendapat, berekspresi sebagai representasi dari kebebasan pers merupakan Hak Azasi Manusia (HAM) yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memeroleh informasi dan berkomunikasi guna memenuhi kebutuhan hakiki guna meningkatkan kualitas hidup manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, seorang wartawan juga harus menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama. Karenanya, dalam melaksanakan tugas, fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang. Karena itu, pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memeroleh informasi yang benar, seorang wartawan sebagai pekerja profesional memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itulah, wartawan menetapkan dan harus menaati Kode Etik Jurnalistik.
    Urgensitas KEJ Bagi Wartawan
    Pengamalan kode etik baik bagi penyandang profesi (wartawan) maupun bagi masyarakat sangatlah penting. Pasalnya, kode etik menurut Alwi Dahlan (2993) sedikitnya memiliki lima (5) manfaat bagi pihak yang mentaatinya, di antaranya :
    · Melindungi keberadaan seorang professional dalam berkiprah di bidangnya
    · Melindungi masyarakat dari mall praktek oleh praktisi yang kurang professional
    · Mendorong persaingan sehat antar praktisi
    · Mencegah kecurangan antar profesi
    · Mencegah manipulasi informasi oleh narasumber
    Begitu pula Kode Etik Jurnalistik (KEJ) menempati posisi yang sangat strategis dan penting bagi wartawan. Bahkan dibandingkan dengan undang-undang lainnya yang memiliki sanksi fisik dan material sekalipun, di hati sanubari setiap wartawan seharusnya KEJ mempunyai kedudukan yang sangat istimewa. Wartawan yang tidak memahami dan menaati KEJ akan kehilangan harkat dan martabatnya sebagai seorang wartawan. Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) merumuskan setidaknya ada empat (4) alasan mengapa kode etik jurnalistik amat penting bagi para wartawan, di antaranya :
    · Kode etik jurnalistik dibuat khusus dari, untuk dan oleh kalangan wartawan sendiri dengan tujuan untuk menjaga martabat atau kehormatan profesi wartawan. Ini berarti pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik adalah pelanggaran terhadap nilai nilai kehormatan profesinya sendiri.
    · Wartawan harus memiliki keterampilan teknis di bidang profesinya. Misalnya harus dapat menulis berita atau menyiarkan berita dengan benar, adil dan berimbang. Selain itu, wartawan juga harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang sangat luas. Pendek kata, wartawan harus berilmu dan ’pinter’, baik dalam penguasaan teknis jurnalistik maupun sosial kemasyarakatan. Kode Etik Jurnalistik dalam hal ini menjadi salah satu dan yang utama sebagai barometer profesionalisme wartawan.
    · Kode Etik Jurnalistik menyangkut hati nurani terdalam wartawan. Rumusan dalam Kode Etik Jurnalistik merupakan hasil pergumulan hati nurani wartawan. Pelaksanaannya juga harus dilandasi dengan hati nurani. Maka pelanggaran terhadap KEJ, berarti pengkhianatan terhadap hati nurani profesi wartawan sendiri, dan ini jelas merupakan sifat yang sangat tercela. Secara prinsip pelanggaran terhadap KEJ khusus bagi wartawan dapat bermakna merupakan perbuatan yang lebih tercela daripada pelanggaran terhadap hukum atau perundang-undangan sekalipun.
    · Kode Etik Jurnalistik adalah mahkota dalam hati setiap wartawan. Pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik merupakan salah satu barometer seberapa besar amanah yang diberikan oleh rakyat kepada pers dijalankan. Tanpa memahami Kode Etik Jurnalistik secara benar wartawan telah mengkhianati kepercayaan yang dipegangnya. Tanpa memahami dan tunduk kepada Kode Etik Jurnalistik wartawan telah mengkorupsi kedaulatan rakyat yang dipercayakan kepada mereka. Oleh karena itu pemahaman dan penaatan terhadap Kode Etik Jurnalistik mutlak bagi wartawan.
    Perbedaan Kode Etik Jurnalistik dan Hukum
    Ruang lingkup dan makna kode etik dan hukum memiliki kedekatan, sehingga menimbulkan pertanyaan apa bedanya antara kode etik dengan hukum? Untuk menjelaskannya, lebih dulu harus dipaparkan mengenai pengertian konsep hukum itu sendiri. Secara sederhana pengertian hukum tersebut dapat dibagi ke dalam 2 (dua) bagian, yakni 1) hukum dalam arti luas dan 2) hukum dalam arti sempit. Dalam arti luas pengertian hukum mempunyai tata nilai peraturan dan konvensi baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dengan demikian seluruh kaidah yang mengatur kehidupan manusia dalam arti luas ini adalah hukum.
    Sedangkan hukum dalam arti sempit, adalah segala bentuk perundang-undangan atau peraturan yang tertulis. Dalam pengertian sempit ini semua peraturan yang tertulis tanpa membedakan tingkatan dapat dikategorikan sebagai hukum. Mulai dari konstitusi Undang-Undang Dasar, Peraturan Pemerintah sampai Keputusan lurah yang tertulis masuk dalam wilayah pengertian ini. Dilihat dari makna hukum dalam arti luas, maka kode etik dapat dikategorikan sebagai salah satu bagian dari hukum dalam arti sempit, walaupun sama-sama terhimpun dalam peraturan yang tertulis, kode etik mempunyai karakteristik yang berbeda dengan hukum.
    Setidaknya-tidaknya terdapat empat perbedaan antara kode etik dengan hukum, di antaranya :
    · Perbedaan dalam soal sanksi
    · Perbedaan dalam soal ruang lingkup daya laku atau daya jangkau berlaku
    · Perbedaan soal prosedur pembuatannya
    · Perbedaan antara formalitas dan sikap batiniah
    Selain berfungsi mengatur, hukum juga mempunyai sanksi kongkrit tertentu, termasuk sanksi fisik, yang bersifat memaksa dan dapat dilaksanakan oleh pihak ketiga. Misalnya seseorang yang dihukum karena melakukan tindak pidana, orang itu dapat dikenakan hukuman penjara. Sebaliknya kode etik hanya berfungsi mengatur saja, dan tidak mempunyai sanksi kongkrit tertentu.
    Sejatinya sanksi dalam kode etik lebih bersifat moral. Makanya sanksi dari kode etik terutama berasal dari hati nurani masing-masing atau masyarakatnya sebagaimana yang tercantum dalam salahsatu klausul Kode Etik Jurnalistik, yang mengatakan, “Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa penaatan Kode Etik Jurnalistik ini terutama berasal pada hati nurani masing-masing,”. Ukuran utama dalam menghayati dan melaksanakan kode etik terletak pada hati nurani sang wartawan.
    Perbedaan dalam soal daya laku, dayajangkau atau ruang lingkup antara kode etik dan hukum sangat jelas. Daya laku kode etik hanyalah terbatas pada kalangan tertentu saja. Ini berarti ruang lingkup untuk KEJ hanyalah untuk para wartawan saja. Mereka yang bukan wartawan tidak bisa dikenakan kode etik pers. Bahkan jika kode etik itu milik suatu organisasi wartawan tertentu, daya lakunya hanya juga khusus untuk organisasi wartawan yang bersangkutan. Tidak semua wartawan bisa dikenakan isi kode etik untuk organisasi wartawan tertentu. Misalnya, kode etik jurnalistik milik PWI hanya berlaku bagi wartawan dan anggota di bawah organisasi PWI.
    Di sini Kode Etik PWI bersifat otonom dan personal, hak otonom dalam menyusun, membuat, mengawasi, dan personal dalam pelaksanaan KEJ PWI. Berbeda dengan daya jangkau hukum. Hukum bersifat publik, sehingga otomatis berlaku dan mengikat bagi semua warga negara. Misalnya, sebuah undang-undang berlaku untuk semua warga negara. Contohnya hukum positif berlakunya UU Nomor.40 Tahun 1999 tentang Pers mengikat semua warga negara. Singkatnya, obyek kandungan isi perundang-undangan jauh lebih luas dibandingkan dengan kode etik.
    Perbedaan mekanisme proses pembuatan perundang-undangan (hukum dalam arti sempit) harus dibuat oleh salah satu organ negara yang diberi wewenang untuk tu. Misalnya untuk tingkat undang-undang, proses pembuatan harus melibatkan DPR dan Pemerintah. Sedangkan kode etik dibuat oleh organisasi profesi yang bersangkutan sesuai dengan aturan organisasi. Idealnya proses pembuatan kode etik tidak perlu melibatkan pihak lain atau pihak ketiga di luar lembaga atau organisasi profesi yang bersangkutan.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini