JAGUAR NEWS 77 # KEPRI - Daftar 5 fakta Gubernur Kepri Nurdin Basirun kena OTT KPK, di ciduk saat baru saja rayakan ulang tahun.
OTT KPK di Kepri, Gubernur Kepri Nurdin Basirun ditangkap.
Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau ( Kepri ), Rabu (10/7/2019) sore kemarin.
OTT ini dilakukan KPK kepada pejabat daerah di lingkungan Pemprov Kepri.
Satu di antara yang ditangkap adalah Gubernur Kepri, Nurdin Basirun (62).
Lainnya adalah pejabat eselon lingkup Pemprov Kepri dan swasta.
Terkait dengan OTT KPK ini, berikut 5 fakta terkait:
1. Gubernur cs yang ditangkap
Petugas KPK menangkap total 6 orang, satu di antara Gubernur Kepri Nurdin Basirun.
"Kepala daerah di tingkat provinsi ya. Kemudian kepala dinas yang mengurus bidang kelautan, kemudian ada kepala bidang, PNS, dan pihak swasta yang kami periksa dan kami klarifikasi di Polres," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu malam.
Menurut Febri Diansyah, keenam orang itu masih berada di Kepulauan Riau.
Nantinya KPK akan membawa pihak yang diamankan ke Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (11/7/2019).
"Tergantung kebutuhan tim apakah akan dibawa 6 orang atau sebagian saja dibawa karena proses pemeriksaan sudah selesai besok mungkin akan saya update lagi," kata dia.
2. Diduga suap terkait reklamasi
Apa penyebab mereka ditangkap?
Menurut Febri Diansyah, KPK menduga akan terjadi transaksi terkait izin lokasi rencana reklamasi di Kepulauan Riau.
"Diduga ini bukan penerimaan pertama nanti tentu kami akan identifikasi dan dalami lebih lanjut mulai dari proses pemeriksaan ini karena sesuai dengan hukum acara, KPK diberikan waktu paling lama 24 jam ya nanti akan ditentukan status hukum perkaranya dan status pihak-pihak yang diamankan itu," kata Febri Diansyah.
3. Ada uang 6 ribu dollar Singapura
KPK mengamankan uang sebesar 6.000 dollar Singapura dalam operasi ini.
Jika dikonversi ke dalam rupiah, uang yang diamankan itu setara Rp 62,4 juta.
4. Ditangkap setelah ulang tahun
Gubernur Nurdin Basirun ditangkap selang 3 hari setelah mememperingati ulang tahunnya ke-62.
Dia lahir di Moro, Karimun, Kepri, 7 Juli 1957.
Dikutip dari Tribun Batam, Nurdin Basirun pada hari ulang tahunnya berharap bisa memanfaatkan sisa hidupnya untuk agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
"Saya sudah mewakafkan diri untuk kemajuan Kepri," ujar Nurdin Basirun pada perayaan ulang tahunnya itu.
Perayaan ulang tahun itu dirayakan di Kota Tanjungpinang, ibu kota Kepri.
Pada Minggu (7/7/2019) itu, seusai menunaikan safari subuh, Nurdin sempat melepas peserta lomba sepeda 2019 Nat Criterium di halaman Gedung Daerah.
Bersama keluarga, dia berkumpul bersama anak-anak panti asuhan Rumah Soleh Innayah Bintan untuk melaksanakan doa bersama.
Usai doa syukur bersama, sebuah nasi tumpeng dan kue ulang tahun langsung diantar ke hadapannya.
Nasi tumpeng dan kue ulang tahun itu disiapkan oleh istrinya, Noor Lizah Nurdin.
Dia lalu memotong tumpeng dan menyerahkannya kepada Istrinya, selanjutnya kepada anak-anaknya dan digilir kepada satu per satu anak panti asuhan yang hadir.
“Syukur, alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan, kekuatan dan kesehatan di usia yang ke-62 ini. Usia saya terus berkurang. Namun amanah yang diemban saat ini semoga mendapat keberkahan oleh Allah untuk dijalankan dengan semaksimal mungkin,” ujar Nurdin Basirun.
Nurdin sendiri memaknai momen ulang tahun itu untuk menyadari waktu di dunia ini hanya bersifat sementara. 
Dia percaya, dunia ini semua hanyalah titipan.
Karena itu, di sisa waktunya itu, dia ingin manfaatkanlahnya dengan maksimal di jalan Allah, mengabdi kepada agama bangsa dan negara serta masyarakat.
Dia mengakui tidak ada waktu istimewa untuk hidupnya sendiri.
Baginya, waktu istimewa itu adalah kesempatan untuk selalu bertemu masyarakat dan bekerja untuk kesejahteraan masyarakat.
“Semoga bertambahnya usia dan juga disisa-sisa kehidupan ini, saya bisa memberikan yang terbaik bagi seluruh masyarakat Kepri,” kata Nurdin Basirun di Masjid Baiturrahman.
5. Status
Hingga Kamis subuh, KPK belum mengumumkan status mereka, namun mereka masih sebagai terperiksa.
Mereka yang ditangkap diperiksa di Mapolres Tanjungpinang.
Gubernur Sulsel Disebut Terima Rp 10 Miliar di Pilgub
Kabar dari Sulsel Panitia Khusus Hak Angket DPRD Sulsel kembali menggelar sidang di Gedung DPRD Sulsel hari ini. 
Hak Angket DPRD Sulsel mempertanyakan sejumlah kebijakan Pemprov Sulsel.
Sidang lanjutan Panitia Hak Angket berlanjut di lantai 8 gedung DPRD Provinsi Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Rabu (10/6/2019) siang.
Sidang menghadirkan terperiksa mantan Kepala Inspektorat Sulsel, Lutfie Natsir.
Sidang yang sedianya dimulai pukul 09.30 Wita molor ke pukul 11.20 Wita.
Sidang dipimpin ketua Kadir Halid dan wakil ketua Arum Spink dan Selle KS Dalle.
Sebelumnya pada Selasa (9/7/2019), Mantan Kepala Biro Pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Jumras memberikan keterangan pada saat Sidang Pansus Hak Angket.
Jumras menceritakan dua pengusaha bernama Agung Sucipto dan Ferry T menemui dia untuk bisa dimenangkan dalam tender proyek.
Namun, Jumras mengakui meminta ikut lelang tender proyek.
Setelah pertemuan itu, ia dipanggil ke Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, 20 April 2019.
Dalam pertemuan ini ada Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP), Prof Yusran; anggota TGUPP Dr Jayadi Nas, dan Asri Sahrun Said.
Dalam pertemuan ini, Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah mengungkapkan, Jumras dicopot karena meminta fee.
"Saya bilang, saya terima ini pencopotan. Pak Agung bilang ke saya, Pak Gubernur dibantu Rp 10 miliar saat Pilkada," katanya.
Apa saja kata Jumras, berikut videonya!
Reaksi Gubernur Sulsel Disebut Terima Rp 10 Miliar
Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah menegaskan bahwa apa yang diungkapkan oleh mantan Kepala Biro Pembangunan Sulsel Jumras di sidang hak angket DPRD Sulsel itu pembohongan publik.
"Bohong itu, tidak ada itu bantuan, apalagi sama kontraktor sampai mereka berikan uang hingga miliaran," tegas Nurdin, Selasa (9/7/2019).
Ia menegaskan dirinya dan Andi Sudirman Sulaiman duduk sebagai pemenang pesta demokrasi Pilgub Sulsel 2018 lalu karena keinginan masyarakat.
Masyarakat memilih Nurdin dan Sudirman (Prof Andalan) saat Pilgub lalu karena menginginkan perubahan, dan Nurdin pun mengaku komitmen dengan perubahan itu.
Sebelumnya, mantan Kepala Biro Pembangunan Sulsel Jumras ini menjadi terperiksa dalam sidang hak angket DPRD Sulsel.
Saat itu ia ditanya mengenai alasan dirinya dicopot dari jabatannya oleh Gubernur Sulsel.
Jumras mengaku, dirinya tidak mengetahui apa kesalahan yang telah dibuatnya hingga ia dicopot.
Namun sebelum pencopotannya, dirinya ditemui oleh dua orang pengusaha bernama Angguk dan Fery. Dua pengusaha itu meminta proyek kepada dirinya.
“Saat Angguk dan Fery datang minta proyek, saya tidak langsung berikan. Di situ Angguk bercerita, bahwa dirinya telah menyetorkan uang sebesar Rp 10 miliar untuk memenangkan Nurdin Abdullah dalam Pilkada Sulsel,” ungkap Jumras.
'Nyanyian' Jumras yang masih berstatus anak buah dari Gubernur Sulsel ini salah satu fakta penting yang akan diklarifikasi Pansus Hak Angket DPRD Sulsel kepada Pemprov Sulsel. 
SUMBER : TRIBUNNEWS
OLEH : REDAKSI JAGUARNEWS77